Teladan Seorang Pemimpin


Teladan Seorang Pemimpin



Engkau juga mungkin sudah mengetahui cerita tentang Umar Ibn Abdul Aziz. Keturunan Umar Ibn Khatthab ini juga seorang pemimpin rakyat yang patut kita contoh. Semasa menjabat sebagai khalifah, pemimpin yang dikenal karena keadilan serta wibawanya itu pernah disediakan makanan oleh Istrinya; sepotong roti hangat.
Sebelum memakan, sang Khalifah bertanya dengan nada keheranan pada Istrinya: “Wahai Istriku dari mana kau memperoleh roti yang harum dan tampak lezat ini”? Istrinya menjawab, “Ya Amirul Mukminin, itu buatanku sendiri. Aku sengaja membuatkan ini hanya untuk menyenangkan hatimu yang setiap hari selalu sibuk dengan urusan negara dan rakyat”.
Lantas, khalifah pun bertanya lagi “Berapa uang yang kamu perlukan untuk membuat roti seperti ini”. “Hanya tiga setengah dirham saja , kenapa memangnya?” jawab sang istri.
“Aku perlu tahu asal usul makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam perutku ini, agar aku bisa mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah SWT nanti” jawab Khalifah, seraya bertanya lagi “Terus uang yang 3,5 dirham itu kau dapatkan dari mana”?
“Uang itu saya dapatkan dari hasil penyisihan setengah dirham tiap hari dari uang belanja harian rumah tangga kita yang selalu kau berikan kepadaku, jadi dalam seminggu terkumpullah 3.5 dirham dan itu cukup untuk membuat roti seperti ini yang halal dan sehat,” jawab istrinya.
“Baiklah kalau begitu. Saya percaya bahwa asal usul roti ini halal dan bersih. Berarti kebutuhan biaya harian rumah tangga kita harus dikurangi setengah dirham, agar tak mendapat kelebihan yang membuat kita mampu memakan roti yang lezat atas tanggungan umat”.
Kemudian Khalifah memanggil Bendahara Baitulmal (Kas Negara) dan meminta agar uang belanja harian untuk rumah tangga Khalifah dikurangi setengah dirham. Dan Khalifah berkata kepada istrinya, “saya akan berusaha mengganti harga roti ini agar hati dan perut saya serta anak kita tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi. “
Pemimpinku yang terhormat,
Boleh jadi engkau adalah seorang yang tidak mau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ya, tak berbeda denganku. Oleh karenanya, kisah tadi sebenarnya lebih merupakan harapan kami terhadap pemimpin-pemimpin kami.
Kami berharap, pemimpin lebih dekat dengan masyarakatnya. Yang mau melihat ratap dan sengsara rakyat, mendengar keluh dan pesan rakyatnya. Tentu rakyat tak bermaksud meminta engkau meronda malam hingga pagi. Cukup beberapa kali rakyat dikunjungi saja.
Kami ingin pemimpin yang tak takut dengan hinaan orang lain karena pakaian sederhana yang dikenakan; makanan biasa namun halal dan bergizi yang dihidangkan, rumah tak cukup mewah yang menjadi tempat tinggal. Kami yakin, rakyat akan bersimpati dan terus mendukungmu, mendoakan di setiap saat bagi kebaikanmu dan keluargamu. jika engkau mampu berbuat sebagaimana yang kami harap. Kami pun tidak memaksa engkau bersumpah palapa seperti Maha Patih Gadjah Mada, demi kesejahteraan bangsa.
Pemimpinkku yang terhormat,
Mohon maaf atas kelancangan kami bertutur saran kepadamu. Tak bermaksud menggurui, apalagi mendiktemu. Ini hanyalah harapan terdalam hati nurani kami. Yang ku tahu, dulu engkau punya mimpi atas keadilan, kesejahteraan, dan kemandirian. Karenanya, izinkan kami mendukung perjuanganmu dengan berharap engkau menjadi yang sebenarnya pemimpin.
Di penghujung surat ini, kami berdo’a yang terbaik atas kehidupan dan penghidupanmu. Semoga kebaikan terlimpah bagi bangsa ini. InsyaAllah, rakyat akan mendukung upaya terbaik bagi terciptanya keadilan dan kesejahteraan negara ini.

Hubungi Kami