Tarekat Naqsyabandiyah



A.          Biografi Bahauddin an-Naqsyabandi

Nama lengkap beliau adalah Syaikh Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi al Bukhari Naqsyabandi (717-791 H/1318 -1389 M)[1]. Dilahirkan di Qashrul Arifah, sebuah desa di kawasan Asia Tengah[2], kurang lebih empat mil dari Bukhara tempat lahir Imam Bukhari. Syekh Naqsyabandi lahir dari lingkungan keluarga sosial yang baik dan sederhana[3].

Ia mendapat gelar Syekh yang menunjukkan posisinya yang penting sebagai seorang pemimpin spiritual. Sejak masih bayi ia diadopsi oleh seorang guru pendidikan tasawuf bernama Baba al-Samasi. Ia mulai belajar tasawuf ketika berusia 18 tahun. Kemudian Baha’ al-din belajar ilmu tarekat pada seorang quthb di Nasaf, yaitu Amir Sayyid Kulal al-Bukhari (w. 772 H/1371 M). Dari Kulal inilah ia pertama belajar tarekat yang didirikannya. Selain itu Naqsyabandi pernah juga belajar pada seorang arif bernama al-Dikkirani selama sekitar satu tahun[4].

B.           TAREKAT NAQSYABANDIYAH
Tarekat Naqsyabandiyah adalah salah satu diantara beberapa alirah tarekat mu’tabarah yang berkembang dan besar pengaruhnya pada dunia Islam[5]. Nama tarekat ini diambil dari nama pendirinya Baha’ al-Din Naqsyabandi. Dalam dunia tarekat diakui bahwa pendiri tarekat adalah tokoh yang mensistemetisasikan ajaran-ajaran, metode, ritus, dan amalan secara eksplisit tarekat tersebut[6].
Terkat Naqsyabandiyah berbeda dalam banyak segi dari banyak aliran tarekat sufi lainnya. Berasal dari tradisi Asia Tengah yang merupakan keturunan dari Yusuf Hamadhani (w. 1140 M). ia adalah “imam zamannya yang mengetahui rahasia hati, yang menegrti akan tugasnya” (MT 219 H). Hubungan rohani Hamadhani ini bisa di sanadkan sampai Kharaqani dan Bayezid Bistami. Kemudian melalui pembiatan resmi, Baha’ al-Din menjadi pewaris rohani dari Ghijduwani[7]. Kemudian dengan pendidikan dari kedua guru utamanya yakni Baba al-Samasi dan Amir Kulal, membuat ia mendapatkan mandat yang cukup berpengharuh sebagai pewaris tradisi Khwajagan. Khwajagan mempopulerkan tarekatnya di Asia tengah  dan peminatnya dari semua kalangan[8]. Kegiatan utamanya pada mulanya hanya berhubungan dengan Bukhara dan menjadi wali pelindung di sana[9].
Ciri-ciri dari inti pendidikan Naqsyabandiyah, pertama adalah dzikir di dalam hati kebalikan dari dzikir yang dilagukan dengan iringan musik dalam tarekat-tarekat lain yang berhasil menarik banyak massa. Ke dua adalah Suhbat, adalah pembicaraan intim antara guru dengan murid yang dilakukan pada tingkat kesadaran rohani yang sangat tinggi. Hubungan dekat antara guru dan murid mewujudkan diri dalam bentuk tawajjuh, pemusatan konsentrasi timbale-balik antara satu dengan yang lian yang menghasilkan pengalaman penyatuan rohani, penyempurnaan keyakinan, dan gejala-gejala lainnya[10].
Dalam ajaran tarekat Naqsyabandiyah terdapat beberapa ajaran dan amalan-amalan yang menjadi prioritas daripada Naqsyabandiyah itu sendiri diataranya adalah :
1.      Manakala hendak berdzikir maka terlebih dahulu menghadirkan rupa wajah guru atau yang lebih dikenal dengan nama “Rabithah”.
2.      Mengasingkan diri dengan beramal dan berdzikir 40 hari, 20 hari dan 10 hari. Hal ini dikenal dengan sebutan berkhalwat atau suluk.
3.      Di saat berada dalam waktu suluk dilarang memakan semua jenis daging.
4.      Para ahli tarekat sama menyebut silsilah tarekat Naqsyabandiyah sampai kepada diri beliau Nabi Muhammad SAW.
5.      Dalam berdzikir mereka melakuakan dengan kaifiyat  dan cara-cara tertentu[11].
Kemudian yang dimaksud dengan dzikir lathaif adalah mengerjakan dzikir pada tujuh lathifah (roh) dengan membaca lafadh "Allah”.untuk setiap lathaif mempunyai ketentuan bilangan berbeda, yaitu:
1.      Lathifah Qalbi dzikir sebanyak 5.000 kali.
2.      Lathifah Ruh dzikir sebanyak 1.000 kali.
3.      Lathifah Sirri dzikir sebanyak 1.000 kali.
4.      Lathifah Khafi dzikir sebanyak 1.000 kali.
5.      Lathifah Akhfa dzikir sebanyak 1.000 kali.
6.      Lathifah Nafsun Nathiqah dzikir sebanyak 1.000 kali.
7.      Lathifah Kulli Jasad dzikir sebanyak 1.000 kali.


Ahli hikma mempunyai tiga cara untuk mencapai kebenaran, yakni melalui muraqabah, musyahadah, dan . muhasabah”. (An-Naqsyabandi).  
Melalui kalimat hikmah tersebut an-Naksabandi menginformasikan kepada kita bahwa ada tiga jalan yang dapat di tempuh untuk mencapai kebenaran, yaitu muraqabah, musyahadah, dan muhasabah. Ketiga jalan inilah yang ditempuh oleh para ahli hikmah, para sufi,dan para kekasih Allah.
An-Naqsabandi menjelaskan bahwa muraqabah adalah tidak melihat makhluk karena senantiasa sibuka melihat Allah. Inilah jalan pertama yang mesti ditempuh oleh seorang salik (menempuh jalan Tuhan). Seseorang yang bermuraqabah berarti tidak memasukan selain Allah kedalam hatinya.
Musyahadah, an-Naqsabandi menjelaskan bahwa musyahadah adalah memandang kecemerlangan nur atau cahaya yang diterima di dalam hati. Artinya, seseorang yang menempuh jalan musyahadah, mesti membersihkan hatinya dari berbagai kotoran hati sehingga Allah berkenan memancarakan cahaya hidayah-Nnya. Sabab, hanya hati yang terang dan sucilah yang akan menerima pancaran cahaya Nya.
Terakhir adalah muhasabah. An-Naqsabandi memaknai muhasabah sebagai suatu keadaan di mana diri seseorang tidak lagi mengizinkan segala seseuatu selain Allah menjadi penghalang untuk mencapai maqam atau derajat yang lebih tinggi di sisi Allah.
Pada akhirnya untuk menempuh ketiga jalan tersebut, diperlukan kesungguhan hati, kekuatan tekat dan keikhlasan niat. Barang siapa yang berhasil, niscaya ia akan memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat[12].

C.           PENYEBARAN TAREKAT NAQSYABANDI
Tarekat Naqsyabandiyah adalah sebuah tarekat yang mempunyai dampak dan pengaruh yang signifikan kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda. Tarekat Naqsyabandiyah pertama kali berdiri di Asia tengah kemudian meluas ke Turki, Suriyah, Afghanistan dan India. Tarekat Naqsyabandiyah di Asia tengah mempunyai padepokan sufi (zawiyah) dan rumah peristirahatan sebagai tempat berlangsungnya aktifitas keagamaan yang semarak.
Berkembangnya atau menonjolnya tarekat Naqsyabandiyah karena keseriusan dalam beribadah yang menolak kesenian musik dan tari, dan lebih menyukai dzikir dalam hati. Tarekat Naqsyabandiyah tidak menganut kebijaksanaan isolasi diri dalam menghadapi pemerintahan yang tengah berkuasa pada saat itu. Secara organisasi aspek krusial dari pada element ini adalah afiliasi spiritual dengan khlifah pertama Abu Bakar As-shiddiq.
Baha’ Al-Din Dalam upaya penyebaran tarekatnya beliau mempunyai tiga orang khalifah yakni :
1.      Ya’qub Carkhi
2.      Ala’ Al-Din Aththar
3.      Muhammad Parsa
Masing-masing khalifah mempunyai beberapa khalifah lagi[13].
Adalah ciri khas keadaan Negara-negara Islam, terutama di daerah anak benua Asia, bahwa perjuangan melawan sinkretisme Akbar dan wakil-wakil tarekat sufi yang hanya melandaskan pada emosi, dilakukan oleh tarekat sufi pula[14].




[1] Sri Mulyati, “Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia”, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. IV, h. 89
[2] Yanuar Arifin, “Hikmah, Karomah, dan Kisah Spiritual Tokoh-Tokoh Sufi Dunia”, (Yogyakarta: Araska, 2016), cet. I, h. 196
[3] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. IV, h. 89
[4] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. IV, h. 89-90
[5] Imron Aba, “Di Sekitar Masalah Thariqat: Naqsyabandiyah”, (Kudus: Menara), h. 26
[6] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. IV, h. 89
[7] Annemarie Schimmel, “Dimensi Mistik dalam Islam”, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), cet.I, h. 377
[8] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. IV, h. 91
[9] Annemarie Schimmel, “Dimensi Mistik dalam Islam”, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), cet.I, h. 377
[10] Annemarie Schimmel, “Dimensi Mistik dalam Islam”, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), cet.I, h. 379
[11] Imron Aba, “Di Sekitar Masalah Thariqat: Naqsyabandiyah”, (Kudus: Menara), h. 26
[12] Yanuar Arifin, “Hikmah, Karomah, dan Kisah Spiritual Tokoh-Tokoh Sufi Dunia”, (Yogyakarta: Araska, 2016), cet. I, h. 200-202
[13] Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. IV, h. 91-92
[14] Annemarie Schimmel, “Dimensi Mistik dalam Islam”, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), cet.I, h. 377

Hubungi Kami