Sumbangsih Falsafah Islam Terhadap Dunia Modern



Lahirnya falsafah Islam tidak lepas dari pengaruh falsafah Yunani, yang dipicu oleh berbagai faktor sehingga timbullah  pemikiran falsafah Islam pada abad ke-8 Masehi atau abad ke-2 Hiriah  di Suriah, Mesopotamia dan Mesir.
Mengenai sejarah timbulnya falsafah Islam beberapa tokoh yang berbeda pendapat tentang sejarah timbulnya falsafah Islam sehingga terjadi saling klaim antar ilmuwan Barat dan Islam dalam perjalanan filsafat, misalnya Oliver Leaman yang berpendapat bahwa “filsafat Yunani sebenarnya pertama kali diperkenalkan kepada dunia lewat karya-karya terjemahan berbahasa Arab, lalu kedalam bahasa Yahudi, dan baru kemudian kedalam bahasa Latin atau langsung dari bahasa Arab ke bahasa Latin”. Berbeda dengan Al-Farabi yang berpendapat bahwa “filsafat berasal dari Irak terus Mesir dan ke Yunani, kemudian diteruskan ke Syiria dan sampai ketangan orang-orang Arab.
            Dalam Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve dijelaskan bahwa kebudayaan dan filsafat Yunani masuk ke daerah-daerah itu melalui ekspansi Alexander Agung, penguasa Macedonia (336-323 SM), setelah mengalahkan Darius pada abad ke-4 SM di kawasan Arbela (sebelah timur Tigris).
            Pada masa Dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum begitu nampak karena ketika itu perhatian penguasa Umayyah lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh kebudayaan Yunani baru nampak pada masa Dinasti Abbasiyah karena orang-orang Persia pada masa itu memiliki peranan penting dalam struktur pemerintahan pusat.
            Para Khalifah Abbasiyah pada mulanya hanya tertarik pada ilmu kedokteran Yunani berikut dengan sistem pengobatannya. Tetapi kemudian mereka juga tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Perhatian pada filsafat meningkat pada zaman Khalifah Al-Makun (198-218 H/813-833 M).[1]
Adapun faktor-faktor timbulnya falsafah Islam sebagai berikut :
  • Faktor dorongan ajaran Islam, Islam menginginkan agar kita sebagai umat berpikir tentang kejadian penciptaan langit dan bumi. Dan penciptaan langit dan bumi tentu ada yang menciptakannya, atas dasar keingintahuan inilah perlunya pemikiran untuk dapat mencari tahu lebih lanjut dengan menggunakan pemikiran filsafat.
  • Faktor perpecahan di kalangan umat Islam (intern), sepeninggal Utsman bin Affan banyak terjadi perpecahan yang awalnya karena persoalan politik, namun berlanjut ke berbagai bidang seperti agama. Mereka cenderung mempertahankan argumen masing-masing dan untuk menyerang lawan, maka masing-masing menggunakan akalnya. Mereka mempelajari pemikiran dari Yunani dan Persia yang mengutamakan akal sebagai sumber, sehingga mereka dapat membentuk filsafat sendiri.
  • Faktor dakwah Islam, dalam dakwah terutama ketika memberi seruan kepada orang-orang untuk masuk Islam misalnya, tentu dalam menyampaikan segala dalil harus rasional. Hal inilah yang memicu perlunya filsafat.
  • Faktor menghadapi tantangan zaman (ekstern), kehidupan mengalami dinamika, begitu juga Islam yang harus menyesuaikan diri dengan zaman yang memiliki persoalan baru. Oleh karena itu, Islam juga harus memiliki pemikiran yang berkembang. Pengembangan pemikiran inilah berlangsung dalam filsafat.
  • Faktor pengaruh kebudayaan lain, setelah wilayah kekuasaan Islam semakin meluas, tentu banyak bertemu dengan kebudayaan lain dan tertarik untuk mempelajari, sehingga terjadi sentuhan dengan budaya asli                                                     [2]
Tokoh-Tokoh Falsafah Islam
Ø  Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq al-Kindi,
Ø  Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzlagh al-Farabi,
Ø  Abu ‘Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina
Ø  Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali.
Ø  Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd,

                                    [3]
                                     [4]
 Sumbangsi Falsafah Islam untuk Dunia Modern

Setelah mengalami proses interaksi tokoh-tokoh Islam dengan pemikiran dan kebudayaan yang baru, muncullah ahli-ahli kalam dan para filosof yang mereka berasal dari  kaum muslimin seperti Ibnu Khladun, Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd,Al-Farabi dan lain sebagainya. Yang kita kenal mereka adalah para pemikir Islam yang popular didunia ilmu kalam dan Falsafah. karya-karya yang mereka hasilkan masih dipelajari oleh para intlegensia  di era ini.

Karya-karya yang dihasilkan oleh para failasuf Islam masih relevan sampai saat ini bahkan menjadi pokok utama pembelajaran bagi perguruan tinggi khususnya yang ada di Indonesia. Hingga peradaban Islam telah memberi kontribusi besar dalam berbagai bidang khususnya bagi dunia Barat yang saat ini diyakini sebagai pusat peradaban dunia. Kontribusi besar tersebut antara lain:
1.        Sepanjang abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya kaum Muslim dalam bidang filsafat, sains, dan sebagainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, khususnya dari Spanyol. Penerjemahan ini sungguh telah memperkaya kurikulum pendidikan dunia Barat.
2.    Kaum muslimin telah memberi sumbangan eksperimental mengenai metode dan teori sains ke dunia Barat.
3.    Sistem notasi dan desimal Arab dalam waktu yang sama telah dikenalkan ke dunia barat.
4.    Karya-karya dalam bentuk terjemahan, kususnya karya Ibnu Sina (Avicenna) dalam bidang kedokteran, digunakan sebagai teks di lembaga pendidikan tinggi sampai pertengahan abad ke-17 M.
5.    Para ilmuwan muslim dengan berbagai karyanya telah merangsang kebangkitan Eropa, memperkaya dengan kebudayaan Romawi kuno serta literatur klasik yang pada gilirannya melahirkan Renaisance.
6.    Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah didirikan jauh sebelum Eropa bangkit dalam bentuk ratusan madrasah adalah pendahulu universitas yang ada di Eropa.
7.    Para ilmuwan muslim berhasil melestarikan pemikiran dan tradisi ilmiah Romawi-Persi (Greco Helenistic) sewaktu Eropa dalam kegelapan.[5]
8.    Sarjana-sarjana Eropa belajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi Islam dan mentransfer ilmu pengetahuan ke dunia Barat.[6]
9.    Para ilmuwan Muslim telah menyumbangkan pengetahuan tentang rumah sakit, sanitasi, dan makanan kepada Eropa.

Sumber-Sumber pemikiran Falsafah Islam
Falsafah Islam mengadopsi dari Plato yang mana dunia ide ini adalah dunia nyata. Realitas dalam konteks pengetahuan Islam tidak terbatas pada relitas empirik saja (inderawi), tetapi juga realitas ide tersebut yang sering disebut sebagai realitas spiritual. aliran falsafah dalam Islam juga banyak beririsan dengan aliran mistik (sufisme).
di dalam falsafah Islam tidak hanya diakui dunia empiris yang bisa diserap oleh indera, tetapi juga pengetahuan rasional hasil dari spekulasi akal, dan pengetahuan intuitif yang berasal dari serapan qalbu.
Murtadha Muthari (1993)membagi empat metode pemikiran yang selanjutnya bisa disebut sebagai aliran falsafah yang masing- masing memiliki karakter khusus di bawah pengaruh ajaran Islam, yaitu:
ü  Paripatetism (Masyaiyah)
Mengandalkan deduksi, logika, dan spekulasi rasional. Mengadopsi gagasan falsafah yunani yang secara tidak langsung mensintesakan ajaran Aristoteles dan Plato. Tokoh-tokohnya seperti Al-Kindi, Al- Farabi, Ibn Sina (periode awal), Ibn Rusyd, dll.
ü  Kalam
            Mengandalkan deduksi rasional dan logika yang didasarkan atas teks- teks atau postulat-posutlat wahyu. Mereka yang tidak pernah menggap pendekatannya sebagai pendekatan falsafah, ini melahirkan tiga aliran besar teologi Islam: Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Syi’ah.
ü  Irfan (atau ma’rifah)
            Mengandalkan intuisi mistik, melalui metode penyucian bathin. Aliran ini merupakan mainstream utama dalam aliran sufisme, tokoh-tokohnya seperti: Al-Hallaj, Abu yazid Bustami, Syibli, dan lain-lain.
ü  Iluminasi (isyraqi)
            Menggabungkan seluruh metode dengan memberdayakan keseluruhan potensi manusia baik itu rasio, logika, intuisi, dll. Tokoh-tokoh aliran ini misalnya Suhrawardi, Ibn Arabi, Mulla Sadhra, Iqbal, dll. [7]


[1].Haidar Bagir, Buku saku filsafat Islam, Jakarta :Mizan: 2005. Hlm 103
2. Haidar Bagir, Buku saku filsafat Islam, Jakarta :Mizan: 2005. Hlm 105
3. Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama,2002), hlm.2.

4. Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama,2002), hlm 4.


5. Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II (Jakarta: UI-Press, 1986), hlm.46.
6.Nasution, Harun. Akal dan Wahyu dalam Islam ,Jakarta: UI-Press, 1986.


[7].Harun Nasution,Teologi Islam,Jakarta:Penerbit UI Press:2016. Hlm 82.
8. Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2004


Hubungi Kami