Perlindungan dan Pelestarian Lingkung Menurut Budhaisme



Pandangan Budhais mengenai lingkungan tercermin dari ayat suci ini: “bagai seekor lebah yang tidak merusak kuntum bunga, baik warna maupun baunya, pergi setelah memperoleh madu, begitulah hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa” (Dhp. 49).

Dalam ekosistem, lebah tidak hanya mengambil keuntungan dari bunga, tetapi juga sekaligus membayarnya dengan membantu penyerbukan. Perilaku lebah memberi inspirasi, bagaimana seharusnya menggunakan sumber daya alam yang terbatas (Wijaya-Mukti, 2004:418). Tiga peristiwa utama menyangkut kehidupan Buddha, kelahiran, penerangan, dan kematian, mengambil tempat di bawah pohon terbuka. Buddha menasehatkan kepada biarawan untuk mencari-cari tempat yang luas di tengah hutan dan kaki pohon untuk praktek meditasi. Udara menyenangkan, tenang dalam suatu lingkungan alami dipertimbangkan sebagai sarana untuk pertumbuhan spiritual.

Perhatian Buddha untuk hutan dan pohon digaris bawahi dalam Vanaropa Sutta (S.I.32) di mana konon penanaman kebun (aramaropa) dan hutan (vanaropa) adalah tindakan yang berjasa, menganugerahkan jasa siang malam sebagai penolong. Dengan jelas Buddha menimbang rasa bagi aspek hutan dan pohon yang bermanfaat. ‘Vana‘ atau hutan dalam Dhammapada digunakan oleh Buddha sebagai perumpamaan kata-kata penuh arti diberlakukan bagi konteks dunia saat ini: tebanglah hutan (nafsu) sampai habis, jangan tinggalkan satu pohon pun. Dari hutan itulah tumbuh rasa takut (Dhp.283).

Bagaimanapun, menanam hutan (vanaropa) berkait dengan konsep menanam hutan, dipahami oleh ahli ilmu lingkungan hidup, dalam rangka menyelamatkan dunia dari penebangan hutan dan desertifikasi sebagai akibatnya. Biarawan dilarang dalam vinaya untuk menebang pohon, kepercayaan populer yang percaya bahwa dalam pohon sedang hidup organisma. Buddha, meletakkan aturan yang menjelaskan, “kenapa orang bodoh mengurangi dan menyebabkan yang lain memotong pohon. Tentu saja, orang percaya bahwa pohon hidup.”

 Agama adalah sesuatu yang bukan hanya sekedar kepercayaan terhadap sesuatu yang transenden (Tuhan) atau kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian. Agama juga harus berarti orientasi terhadap kosmos dan bagaimana peran manusia di dunia. Dalam arti yang luasagama juga memiliki makna tentang bagaimana manusia mengenal batas-batas realitas dan bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya.

Hal ini Agama kecenderungan kerusakan lingkungan hidup dewasa ini semakin masif dan kompleks, baik dipedesaan maupun di perkotaan. Memburuknya kondisi lingkungan hidup secara terbuka diakui mempengaruhi dinamika social tpolitik dan social ekonomi masyarakat, baik ditingkat komunitas, regional, maupun Nasional. Dalam berperan besar untuk mengarahkan dan menjadi, agar manusia lebih menyadari akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.

Kegiatan penyelamatan lingkungan merupakan bagian tidak terpisahkan dari setiap ajaran agama. Dalam konteks keislaman, penyelamatan lingkungan merupakan bagian dari kegiatan penghambaan diri (ibadah) dan pemenuhan tugas sebagai khalifatullah fil ardl. Setiap umat Islam, harus aktif dalam kegiatan penyelamatan lingkungan sebagai bagian dari keterpanggilan dakwah dan penegakan nilai-nilai ajaran Islam. Oleh karena itu, peranan tokoh dan pemuka agama perlu ditingkatkan lagi dalam hal pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup.

Makhluk hidup dalam ajaran Buddha, terdiri dari manusia dan hewan. Tumbuhan tidak termasuk. Makhluk hidup(manusia dan hewan) tersusun atas lima kelompok kehidupan yang disebut lima khandha, yang terdiri dari rupa (wujud yang tampak/badan jasmani), vedana (perasaan), sanna (pencerapan,mengingat), sankhara (keadaan-keadaan pikiran), vinnana (kesadaran). Lima khandha ini secara ringkas disebut jasmani dan batin (rupa dan nama).

Sang Buddha menyadari bahwa segala sesuatu yang berkondisi bersifat tidak kekal atau selalu berubah-ubah (anicatta),  tidak memuaskan atau menderita (dukkhata), dan bersifat tidak mempunyai inti yang kekal (anattata). Jadi makhluk hidup—manusia dan hewan— sebagai sesuatu yang berkondisi mempunyai sifat anicca, dukkha, dan anatta.

            Sudah sejak lama, sebelum dimulainya peradaban manusia dalam mengenal api, manusia telah berburu—sebuah interaksi dengan hewan. Bahkan peradaban selanjutnya, manusia memanfaatkan hewan untuk diternak demi memenuhi kebutuhan hidup. Interaksi manusia dengan alam juga telah terjadi sejak dahulu kala. Manusia telah memanfaatkan alam, untuk membuat alat berburu, atau dimulainya era bercocok tanam setelah nenek moyang manusia hidup menetap. Selain itu manusia membutuhkan makanan, air, udara yang bersih yang kesemuanya adalah bagian dari lingkungan tempat manusia hidup.



           


Hubungi Kami