Perlindungan dan Pelestarian Lingkung Menurut Cristiani



Kerusakan lingkungan yang terjadi dibumi ini, jika dicermati dengan seksama, sebenarnya berakar dari cara pandang manusia tentang kehidupan dan alam lingkungannya. Cara pandang ini kemudian melahirkan perilaku manusia yang merusak keseimbangan di alam, yang pada gilirannya akan mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan.

Di dalam sejarah peradaban manusia, terdapat tiga revolusi yang telah mengubah pola kehidupan bermasyarakat selamanya, baik dari segi produksi, distribusi, maupun konsumsi. Yang pertama adalah Revolusi Agraria pada masa prasejarah, yang kedua adalah Revolusi Industri pada abad ke-18, dan yang ketiga adalah revolusi yang berhubungan dengan pengolahan minyak bumi pada paruh abad ke-19.

Tugas kita, terkhusus sebagai anak-anak Tuhan, untuk mengelola bumi dan memanfaatkan sumber daya alamnya secara bertanggung jawab. Kita perlu memikirkan tidak hanya kepentingan sesaat saja, tetapi juga untuk berpikir ke depan, untuk anak-anak serta generasi-generasi yang akan datang supaya mereka tidak hidup di tengah-tengah dunia yang rusak akibat polutan-polutan yang telah kita tinggalkan serta sumber daya yang telah kita habiskan. Jadilah orang Kristen yang mencintai lingkungan.

Kerusakan lingkungan berakar dalam keserakahan dan kerakusan manusia. Itu sebabnya manusia yang dikuasai dosa keserakahan dan kerakusan itu cenderung sangat konsumtif. Secara teologis dapat dikatakan bahwa dosa telah menyebabkan krisis moral/krisis etika dan krisis moral ini menyebabkan krisis ekologis, krisis lingkungan. Dengan demikian setiap perilaku yang merusak lingkungan adalah pencerminan krisis moral yang berarti tindakan dosa. Dalam arti itu maka upaya pelestarian lingkungan hidup harus dilihat sebagai tindakan “pertobatan dan kelahiran kembali” (Yohanes 2:38-39);

            Manusia mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan dengan alam semesta. Manusia berhubungan dengan hewan. Seperti yang dikisahkan dalam kitab kejadian tersebut, Tuhan telah
meciptakan suatu lingkungan hidup yang tediri dari manusia dan segala disekelilingnya baik selain manusia dengan manusia untuk membentuk suatu komunitas makhluk ciptaannya, dan di dalam komunitas ini manusia bertanggung jawab.

Etika lingkungan biasanya dibagi atas dua atau tiga bagian :
Pertama,  antroposentris  adalah pandangan yang telah lama dianut oleh umat manusia yang beranggapan bahwa alam atau lingkungan hanya memunyai nilai alat (instrumental value) bagi kepentingan manusia.
Kedua, biosentris. Penganut pandangan ini berpendirian bahwa semua unsur dalam alam memunyai nilai bawaan (inherent value), misalnya kayu memunyai nilai bawaan bagi kayu sendiri sebagai alasan berada.
ketiga, yaitu ekosentris, berpendirian bahwa bumi sebagai keseluruhan atau sebagai sistem tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Maka lingkungan harus diperhatikan karena manusia hanyalah salah satu subsistem atau bagian kecil dari seluruh ekosistem. Pandangan ini dianut umumnya oleh manusia Timur, termasuk orang Indonesia, yang sangat menekankan hubungan erat antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Manusia adalah mikro dari makro kosmos.


    Perjanjian Baru

Pengertian kosmos atau lingkungan hidup dalam perjanjian baru adalah himpunan keadaan dan kemungkinan dalam hidup. pengertian ini bersifat kristologis, di mana lingkungan alam atau
kosmos dihubungkan dengan ruangan dan kata ini juga melukiskan kemanusiaan, ruangan atau kosmos di sini adalah diciptakan oleh Tuhan dan manusia melakukan sesuatu secara betanggung jawab. Seperti yang diterangkan dalam surat-surat paulus, yang di maksud


Perjanjian Lama,
Dengan kosmos adalah segala sesuatu yang bukan Tuhan, yakni lingkungan alam semesta. Lingkungan di sini bersinggungan dengan semua benda dan mencakup kemanusiaan yang dilukiskan sebagai alam semesta. Yang di maksud dengan kosmos adalah ruang yang meliputi semua yang berada di luar Tuhan. Hal pemikiran ini paulus tidak mempunyai keteraturan karena dunia telah kehilangan keseimbangan dan keserasian seperti yang tertera dalam kitab suci
Injil.

Hubungi Kami