Perlindungan dan Pelestarian Lingkung Menurut Hinduisme



Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan beribu-ribu pulau serta kekayaan alam. Kehutanan merupakan sektor yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian khusus, kekayaan alam yang lambat laun akan habis. Untuk itu diharapkan kita bersama-sama dapat memikirkan bagaimana hutan tetap lestari sehingga bermanfaat bagi kepentingan kita bersama.

Lingkungan hidup adalah keseluruhan benda/barang, tumbuhan, binatang termasuk manusia dengan segala prilakunya yang berinteraksi dalam tatanan ruang untuk melaksanakan hidup dan kehidupannya (Arwata, 2006). Manusia ( seseorang ) menghayati nilai budaya sesuai pengalaman akal budi yang diperolehnya dari pengamalan hidup rohaniah yang disebut budidaya yang menghasilkan kreativitas dalam kehidupan nyata ( Mattulda, 1997 ). Perkembangan posisi manusia bergerak imanen, transisional lanjut ke transendal.

Agama Hindu di dalam kehidupan sehari-hari dan berbangsa dan bernegara berpedoman pada ajaran agama yaitu ajaran trihita karana, mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan baik dengan Tuhan, sesama, dan lingkungannya.

Agama Hindu yang oleh umat lain diberikan predikat agama bumi memang pada dasarnya sangat berorientasi pada lingkungan ( alam ), tidak semata-mata hanya fokus kepada Tuhan sebagai satu-satunya yang harus dipuja siang-malam dan mengabaikan alam, karena mengatur hubungan dengan alam merupakan bagian dari upaya orang Hindu dalam mendekati Tuhan.

Konsepsi Tri Hita Karana yang merupakan hasil rumusan tata keagamaan yang dipetik dari kitab-kitab agama Hindu adalah bukti nyata bahwa Hindu sebagai agama yang memiliki kesadaran kesemestaan yang tinggi dimana pola hubungan antar manusia-alam-Tuhan mutlak harus dijaga agar selalu harmonis. Diabaikannya salah satu unsur atau komponennya tentu saja dapat dipastikan akan mengakibatkan terjadinya gangguan dan masalah. Inilah yang mungkin menjadi alasan sehingga Pemda Bali menjadikan Tri Hita Karana sebagai landasan pembangunan Bali.

Kemudian hubungan manusia dengan lingkungan timbul pemikiran umat Hindu untuk ditetapkan sebagai hari raya yang disebut Tumpek Pengatag atau Tumpek Uduh. Pada Tumpek Penguduh yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa sebagai Bhatara Sangkara sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan berkembang biak, berdaun, berbunga, berbuah lebat sesuai dengan kegunaannya. Melakukan pemujaan yang ditujukan kepada Bhatara Sangkara maka yang dipakai objek adalah tumbuh-tumbuhan yang paling erat kaitannya dengan manusia dipakai dalam kebutuhan hidup sehari-hari seperti : pohon kelapa, pohon mangga, pohon wani, pohon durian, pohon jambu dan sebagainya. 

Pada hari ini mengingatkan kepada manusia bahwa hari raya Galungan sudah datang 25 hari lagi, maka segala persiapan untuk menyambut dan merayakan hari raya Galungan telah dimulai. Tujuan umat Hindu menghaturkan upacara pada hari ini adalah untuk menghaturkan rasa terima kasih kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Bhatara Sangkara, bahwa beliau telah menciptakan tumbuh-tumbuhan serta memohon agar tumbuh-tumbuhan itu dapat berkembang biak dengan baik dan berguna bagi manusia. Sekaligus juga memohon agar tumbuh-tumbuhan berbuah baik dan banyak sehingga ketika menjelang Galungan agar dapat dipergunakan sebagai sarana upacara persembahan di hari raya Galungan. Pada umumnya upacara ini dilakukan di pekarangan/perkebunan, tegalan yang banyak dipelihara pepohonan yang berguna bagi kehidupan manusia.









Hubungi Kami