Manusia Menururt Murtadha Muthahhari


            

         Bebicara tentang manusia, Drijarkara dalam bukunya Filsafat manusia (1969:7) Manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri dan juga menghadapi(menghadapi kodrat). Manusia merupakan kesatuan dengan alam, tapi juga berjarak dengannya. Manusia bisa melakukan apa saja terhadap alam tidak seperti hewan. Lalu manusia selalu berubah dalam situasi, karena dia selalu terlibat dalam situasi, situasi itu berubah dan merubah manusia maka ia menyejarah. Banyak arti dari manusia, ini bukti bahwa manusia adalah makhluk multi dimensional.
             Berfikir merupakan hal yang selalu dilakukan oleh manusia, dan berpikir pula merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT. kepada kita manusia. Akal yang diberikan oleh-nya merupakan suatu pembeda antara kita dengan makhluk lainnya.
Filsafat merupakan suatu upaya berfikir yang jelas dan terang tentang seluruh kenyataan, filsafat dapat mendorong pikiran kita untuk meraih kebenaran yang dapar membawa manusia kepada pemahaman, dan pemahaman membawa manusia kepada tindakan yang lebih layak.
              Reinhold Niebuhr pernah mengatakan bahwa manusia itu merupakan problema yang membingunkan. Manusia merupakan problema bagi dirinya sendiri. Apakah manusia merupakan anak kecil di dunia ini tak ubahnya seperti binatang dan hanya dapat memberi respons kepada naluri serta keinginan-keinginan kebinatangaannya? Atau apakah manusia itu mempunyai tempat yanga unik dan istimewa di dunia ini, karena ia mempunyai akal yang dapat melakukan interprestasi atau mengungkapkan arti dalam proses kehidupan dan sejarah? Manusia adalah sebagian dari alam dan mengambil bagian dalam cara bertindak.[1]
Secara sederhana hakikat manusia adalah merupakan makhluk dimensional yang mempunyai kelebihan dari pada makhluk lainnya. Manusia mempunyai kelebihan serta kehendak yang telah ada pada dirinya, dan juga manusia bagian dari alam yang melakukan apapun terhadap alam ia mempunyai tepat yang unik  dan istimewa berinterprestasi di dunia ini. Manusia merupakan titipan Tuhan keatas Bumi untuk melestarikan apa yang ada pada Bumi.
A.    Tentang Manusia menurut Murtadha Mutahahari
              Muthahari berpandangan bahwa manusia merupakan evolusi terakhir oleh karna itu Manusia sebagai makhluk, memiliki karakteristik yang khas atau khusus yang membuatnya berbeda dengan makhluk yang lainnya yang ada di dunia, ia tidak puas dengan jawaban para Filosof Barat tentang manusia, apakah yang membedakan manusia dengan Hewan? kaum Rasionalis yang dipelopori oleh Descretes menyatakan bahwa yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya adalah Tabiat Rasional yang dimilikinya, lain kiranya  dengan kalangan Eksistensialis yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran, maka kesadaran akan keberadaannya itulah yang membedakannya dengan binatang, lain halnya juga dengan kaum Psikologi Humanistik yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang Bertanggung Jawab, maka tanggung jawabnyalah yang membuatnya berbeda dengan makhluk lainnya, jawaban yang banyak yang diuraikan para filosof barat tidak cukup mememuaskan bagi sosok Muthahari bahkan ia malah mematahkan teori-teori yang telah dikemukakan para Filsosof Barat tersebut, dan menjawab pertanyaan tersebut dalam presfektif religius karna baginya merupakan suatu solusi yang tepat.[2]
             Ia memandang bahwa dalam diri manusia terdapat sifat kehewanan dan kemanusian, oleh karna itulah baginya karakteristik yang khas dari Manusia adalah Iman dan Ilmu. Ia mempunyai kecenderungan untuk menuju kearah kebenaran-kebenaran dan memuja sesuatu, akan tetapi disisi lain ia juga cenderung untuk memahami alam semesta, oleh karna itu sebenarnya letak terpenting dan mendasar dalam perdebatan tentang perbedaan manusia dengan makhluk yang lainnya adalah pada Iman dan Ilmu.
             Baginya pemisihan dua karakter tersebut akan menurunkan martabat manusia, iman tanpa ilmu akan mengakibatkan fanatisme dan kemunduran, Takhayul serta kebodohan, sebaliknya Ilmu tanpa iman akan mengarah kepada kerakusan, ambisi, penindasan, maupun kecurangan. Muthahari menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang memadukan Iman dan Ilmu. dari sini kita dapat melihat jelas bahwa Muthahari mengartikan manusia dengan jalan religius atau lebih tepatnya mengkedepankan ajaran agama Islam, melalui ajaran agama islam oleh karna itulah Jalaluddin Rakhmat lebih memandang tokoh ini sebagai sosok Ulama bukan Filosof, karna kebanyakan pandangannya mengarah kepada faham keagamaan. lain halnya dengan Mulyadhi Kartanegara yang menyatakan Muthahari sebagai sosok yang memiliki minat yang tinggi terhadap Filsafat dalam tinjauan historis kehidupannya.
                Akan tetapi sayangnya dogma agama tidaklah ditekankan oleh kebanyakan para pemikir Barat, ada yang menganggapnya hanyalah suatu produk kebodohan ada pula yang menganggapnya produk rasa takut, maupun pendambaan akan keadilan dan keteraturan yang dijadikan sebagai solusi untuk menentramkan jiwa yang kelak akan hilang seiring berkembangnya modernisasi seperti yang terjadi Barat pada umumnya, hal ini terbukti dengan adanya beragam hipotesis dari pemikir Barat seperti Hipotesis kaum Marxis yang menyatakan bahwa agama diwujudkan hanya untuk mempertahankan kedudukan para kelas atas, atau seperti Hipotesis Freud yang menyatakan agama sebagai  Naluri yang terkekang sehingga terkadang membatasi kebebasan manusia dll.[3] penggusuran Nilai-nilai keagamaan inilah yang terkadang harus disadari oleh dunia barat agar mampu untuk memahami sesuatu tanpa bertepuk sebelah tangan tidak hanya sekedar pada nalar pengetahuan maupun pemikiran saja.
B.     Keistimewaan Manusia
             Manusia adalah makhluk yang banyak memiliki kesamaan dengan hewan, akan tetapi walau demikian ada perbedaan yang cukup jelas antara manusia dan binatang, uniknya perbedaan tersebutlah yang merupakan suatu keistimewaan tersendiri bagi manusia. Manusia dan hewan pada dasarnya memilki hasrat dan tujuan, keduanya sama-sama berjuang untuk meraih tujuan hidupnya masing-masing yang didukung oleh kadar pengetahuan dan kesadarannya akan suatu hal yang menjadi tujuannya, akan tetapi pengetahuan dan kesadaran antara manusia dan hewan memiliki tingkat dimensi yang berbeda, entah dalam pengetahuan maupun apa yang menjadi tujuan kedua makhluk tersebut (Manusia dan Hewan).
            Kesadaran yang ada pada binatang tidaklah melibatkan kesadaran akan adanya suatu esensi atau apa yang menjadi seluk-beluk dari objek kesadaran itu sendiri, kesadaran tersebut lebih bersifat temporer dalam artian hanya sebatas pada masa dimana ia hidup sekarang akan tetapi terputus dari pada masa hidup yang sebelumnya, dan juga kesadaran yang dimiliki oleh binatang bersifat regional dengan kata lain hanya sebatas lingkup jenis binatang itu sendiri. Lain halnya dengan manusia yang mampu melampaui batasan-batasan yang ada pada dirinya, serta mampu untuk memahami apa yang ada diluar maupun didalam dirinya atau singkatnya kesadaran yang ada pada manusia tidak berkarakteer regional .
             Kemampuan manusia yang tak terbatas inilah yang membuatnya berada pada tingkat hieraki yang lebih tinggi dibanding binatang, kecenderungan mereka untuk menuju kepada kebaikan serta kemampuan untuk menangkap sesuatu yang immaterial merupakan fitrah dari pada manusia itu sendiri. Pengetahuan manusia serta kecenderuangannya kepada sisi spiritual yang menjadi ciri yang khas bagi manusia, oleh karna itulah Muthahari memandang bahwa bahwa yang membedakan manusia dan hewan adalah pengetahuan dan keimanannya.
              Dengan pengetahuan manusia bisa menyelesaikan segala problematika yang ada didalam dan diluar dirinya mampu untuk menemukan tujuan hidupnya serta mengetahui esensi dari segala yang tampak, dengan pengetahuan yang luas ini haruslah diimbangi dengan keimanan agar terarah kepada tindakan moral yang terpuji bukan untuk memanipulasi atau hal-hal buruk lainnya. Keimanan ini juga berfungsi untuk menahan ambisi pribadinya yang membuat mereka tidak peduli akan keberadaan orang lain, keimanan ini juga mengajarkan tentang bagaimana manusia bertingkah laku terpuji bermoral serta bersahabat dengan selainnya.
            Selain dari apa yang disebutkan diatas menurut Muthahari yang berlatar belakang Syi’ah berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan untuk melakukan atau memilih sesuatu dan mencapai tujuannya, manusia tidaklah terkekang oleh takdir, takdir yang dituliskan oleh Tuhan tidaklah memunculkan keterkekangan menurtut Muthahari, akan tetapi membentuk suatu Sistem serta dan serangkaian Norma dan Hukum. Oleh karna itulah kapan seorang manusia mencari atau ingin melakukan suatu hal dia harus mencari atau melakukan sesuai dengan sistem maupun norma dan hukum-hukum tadi. Oleh karna itulah rezki maupun dari tangan Ilahi, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha mencarinya dengan cara yang tidak betentangan dengan sistem, Hukum maupun Norma yang telah ditetapkan oleh Tuhan.[4]
C.     Manusia Multi Dimensi
              Bertitik tolak dari keistimewaan manusia yaitu pengetahuan dan iman, Muthahari mengatakan bahwa manusia dalam dirinya memiliki dua potensi besar yang merupakan unsur terpenting dari manusia itu sendiri yaitu akal dan iman, akal memiliki bentuk aktual yaitu pengetahuan, sedangkan keimanan  membentuk suatu dimensi spiritual manusia. Dengan akal pikirannya inilah manusia manusia mendapatkan cara untuk memahami alam sekitarnya, memahami diri mereka esensi dari semua yang maujud dll, yang kesemuaannya bersifat fisik yang mampu dijangkau oleh daya indrawinya, selain dari apa yang disebutkan diatas  manusia dalam kehidupannya juga banyak menangkap pesona-pesona lain yang memandu mereka kepada suatu bentuk non-material yang tak dapat diukur oleh ukuran indrawi, yang mengarahkan mereka kepada sesuatu yang serba lebih dari pada kemampuan mereka.
              Dua kemampuan atau potensi ini mencakup ruang lingkup kehidupan manusia seluruhnya, apakah hal tersebut dari segi kesenian dan keterampilan manusia itu ataupun dari sigi moral dan material yang menjadi objeknya, potensi ini adalah akal dan iman dari dua potensi inilah manusia memahami dimensi lain didalam maupun diluar dirinya, Muthahari mengkarifikasikan dimensi tersebut menjadi lima bagian, yaitu : pertama : Dimensi Manusia yang berada pada lingkup rasional, kedua : Dimensi Teologi yang merupakan fitrah dari manusia itu sendiri yang membutuhkan sandaran kepada sesuatu yang serba lebih (Tuhan), ketiga : Dimensi Kesenian yang juga fitrah manusia yang cenderung menyukai keindahan, keempat : Dimensi Moral yang menuntun manusia kepada sikap yang santun serta semua yang mengarah kepada kebaikan dalam ruang lingkup fisik, ketiga : Dimensi Material yang merupakan kebutuhan manusia akan suatu hal yang bersifat fisis seperti teman, istri, makanan dll. Semua dimensi tersebut didasari atas fitrah dari pada manusia itu sendiri yang didapatkan lewat dua potensi besar yang telah menjadi bagian darinya (manusia). Inilah yang dimaksud oleh Murthadha Muthahari tentang manusia yang merupakan makhluk multi dimensi atau makhluk yang mampu memahami dimensi-dimensi bahkan berada dalam dimensi tersebut baik yang ada didalam maupun diluar diri manusia itu sendiri.

D.    Kedudukan dan Peran Manusia
           Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. Manusia memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah, an-nas, al insan, al basyar dan khalifah. Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. Misalkan sebagai khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuhan dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi.
            Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba, yang memiliki inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi. Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dalam rangka memakmurkan bumi. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari hukum, dimana harus menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, akal dan, ekologi. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah.
             Manusia secara bahasa disebut juga insan, yang dalam bahasa arabnya berasal dari kata nasiya yang berarti lupa, dan jika dilihat dari kata dasar nya yaitu “al-uns” yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia dan cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataannya manusia adalah mahluk yang berjalan diatas dua kaki, dan mempunyai kemampuan berfikir. Kemampuan berfikir tersebut yang menentukan akan hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain.


[1]  M. Rasidi, persoalan-persoalan filsafat. (Jakarta PT  Bulan Bintang, 1984), h. 30
[2]  Kartanegara. Mulyadhi., Nalar Religius (Erlangga, Jakarta Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia).,hlm.45-47
[3] Muthahari. Murthadha., Membumikan Kitab Suci, Manusia dan Agama., (Bandung.Mizan Media Utama,), hlm.77-85
[4]  Muthahari. Murthadha., Membumikan Kitab Suci, Manusia dan Agama., (Bandung.Mizan Media Utama,), hlm. 105-120

Hubungi Kami