Makna Fawatih Al-Suwar



Apabila kita membaca al-qur`an, yang diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya untuk semua manusia secara global, akan kita dapati bahwa ayat-ayat al-qur`an itu ada yang bersifat muhkam dan ada juga yang bersifat mutasyabihat sebagaimana yang telah dibahas oleh saudara Muhammad Bages dalam makalahnya kemarin. Sengaja kami singgung sedikit karena pembahasan fawatih assuwar tidak terlepas dari dan alias ada kaitanya dengan ayat Mutasyabihat namun sebelum lebih lanjut membicarakan hubungan keduanya terlebih dahulu pemakalah menjelaskan arti dan makna fawatih alsuwar, apa itu fawatih assuwar?
Fawatih Alsuwar terdiri dari dua kata yaitu Fawatih dan Assuwar. Fawatih merupakan jamak taksir dari fatihah yang berarti pembuka. Sedangkan Assuwar adalah jamak taksir dari surah,[1]  yang berarti surah, dan assuwar berarti surah-surah. Tentang istilah surah ini ada beberapa pendapat antara lain: memisalkan dengan pagar bangunan (Bagian dari al-qur`an), memisalkan pagar kota (Karena mengelilingi ayatnya sebagaimana rumah dan pagar), memisalkan bermakna martabat karena ayat-ayat disusun secara tertib dan harmonis, memisalkan tingginya surat (karena al-qur`an adalah kalam Allah yang bernilai tinggi)[2]. Berdasarkan pada gambaran penjelasan fawatih dan assuwar diatas dapat dikatakan bahwa Istilah fawatih assuwar secara harfiah berarti ”pembuka surah-surah”[3].
Berdasarkan makna secara harfiah diatas dapat disimpulkan bahwa secara istilah fawati alsuwar berarti suatu ilmu yang mengkaji tentang bentuk-bentuk huruf, kata, atau kalimat permula`an surah-surah al-qur`an.[4]  Dan sebagaimana yang saya singgung pada permulaan pembahasan diatas bahwa pembahasan fawatih assuwar ada kaitanya dengan ayat mutasyabihat bahkan merupakan bagian dari ayat mutasyabihat karena ia bersifat mujmal, mu`awwal, dan musykil.[5]
Dalam al-qur`an terdapat huruf-huruf awalan dalam pembukaan surah dalam bentuk yang berbeda-beda. Hal ini merupakan ciri kebesaran Allah dan kemahatahuann-Nya sehingga kita terpanggil untuk menggali dan mengkaji ayat-ayat al-qur`an dengan adanya suatu keyakinan bahwa semakin di kaji dan digali arti dan maknanya akan semakin memberikan ilmu pengetahuan yang banyak (luas). Hal ini dapat dibuktikan dengan perkembangan ilmu tafsir yang kita lihat hingga sekarang ini.[6] Diantara fawatih Assuwar ada huruf muqothtao`ah (Huruf terpotong), seperti shad (ص) Haa Mim (  حم), Alif Laam Raa (الر), dll.

Macam-macam fawatih assuwar yang berbentuk huruf muqaththa`ah[7]
Ada lima bentuk fawatih assuwar yang berbentuk huruf muqaththa`ah ini, lima macam tersebut, yaitu sebagai berikut:
Awalan surah yang terdiri dari satu huruf, yaitu surah shad (QS. 38 : ص) , surah qoof (QS. 50: ق), dan surah al-qalam (QS. 68: ن)
Awalan surah yang terdiri dari dua huruf, yaitu surah almukmin (QS. 40: حم), surat fushshilat (QS. 41: حم), surah asysyura (QS. 42: حم), surah azzukhruf (QS. 43: حم), surah addukhan (QS. 44: حم), surah al jastyiaah (QS. 45: حم), surah alahqaf (QS. 46: حم), surah thaha (QS. 20: طه), surah annamal (QS. 27: طس), dan surah yasin (QS. 36: يس).
Awalan surah yang terdiri dari tiga huruf, yaitu sebagai berikut:
enam surah yang diawali dengan Alif Lam Mim (الم), yaitu surah albaqarah (QS. 2: الم), surah ali imran (QS. 3: الم), surah alankabut (QS. 29: الم), surah arrum (QS. 30: الم), surah alluqman (QS. 31: الم), dan surah assajadah (QS. 32: الم).
Lima surah yang diawali dengan alif lam ro (الر), yaitu surah yunus (QS. 10: الر), surah hud (QS. 11: الر), surah yusuf (QS. 12: الر), surah ibrahim (QS. 14: الر), dan surah alhijr (QS. 15: الر)
Dua surah yang diawali dengan Tha Sin Mim (طسم), yaitu surah assyu`araa (QS. 26: طسم), dan surah alqashash (QS. 28: طسم)
Awalan surah yang terdiri dari empat huruf, yaitu surah ala`raf (QS. 7: المص), dan surah arrum (QS. 13: المر)
Awalan surah yang terdiri dari lima huruf, yaitu surah maryam (QS. 19: كهيعص)

Pendapat Ulama` Tentang Makna Fawatih Al-Suwar yang berbentuk muqoththa`ah
Para ulama` berbeda pendapat mengenai kemampuan manusia mengetahui makna huruf muqothtao`ah, yang terdapat diawalan beberapa surah (Fawatih Assuwar). Sebagian mereka berpendapat, tidak ada orang yang mengetahui maksud dan makna ayat tersebut alias hanya Allah yang tahu. Umumnya para mufassir berpendapat demikian.[8]  Oleh karena demikian kebanyakan buku tafsir membuat komentar setelah ayat tersebut dengan ungkapan “Allah a`lam” diantara ulama` yang berpendapat demikian adalah Sufyan Ats-Tsauri dan As-Sya`bi, artinya Huruf-Huruf tersebut termasuk ayat-ayat mutasyabihat, yaitu maknanya tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia.
Akan tetapi ada sebagian mufassir yang menakwilkan huruf-huruf tersebut karena menurut mereka Al-qur`an adalah hidayah dan pedoman hidup bagi manusia. Justru itu ia harus dapat dipahami. Sebab, ia tidak mungkin dijadikan pedoman jika tidak dapat diketahui dan tidak dapat dipahami isi kandungannya. diantara para mufassir yang mentakwilkan huruf-huruf muqaththa`ah adalah sebagai berikut:[9]
Mufassir dari Kalangan Tasawuf
Ulama tasawuf berpendapat bahwa fawatih assuwari, adalah huruf-huruf yang terpotong-potong yang masing-masing diambil dari nama Allah, atau tiap-tiap hurufnya merupakan pengganti dari suatu kalimat yang berhubungan dengan yang sesudahnya, atau huruf itu menunjuk kepada maksud yang dikandung oleh surah yang surah itu dimulai dengan huruf-huruf yang terpotong-potong itu.
Misalkan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas (w. 65 H) menegenai makna Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shad (كهيعص) Huruf kaaf (ك) berasal dari kata karim (maha peyantun), huruf haa (ه) berasal dari kata hadid (maha penuntun), yaa (ي) berasal dari kata hakim, ‘ain (ع) berasal dari kata ‘Aliim (Maha Mengetahui), dan huruf shad (ص) berasal dari kata shaadiq (tidak berdusta). Mengenai tiga huru awal alif laam raa, Ibnu Abbas mentakwilkanya dengan “Anallahu Araa” (Aku Allah mengetahui). Empat huruf awalan Alif Laam Miim Shad ditakwilkan Anallahu Ufshilu (Aku adalah Allah yang memutuskan). Selain itu ada juga orang yang mentakwilkan tiga huruf awalan Thaa Siin Miim dengan Thursina Wa Musa (Bukit Thursina dan Musa), karena dua buah surah yang masing-masing diawali dengan tiga huruf tersebut mengetengahkan kisah nabi yang menerima Taurat (Musa) di Bukit Thursina.
Mufassir Orientalis
Pendapat yang paling jauh menyimpang dari kebenaran adalah dari seorang orientalis yang bernama Noldeke, yang kemudia dikoreksi, bahwa awalan surah itu tidak lain adalah huruf depan dan huruf belakang dari nama-nama sahabat Nabi. Misalnya, huruf sin adalah dari nama Sa’ad bin Abi Waqash, mim adalah huruf depan dai nama Usman Bin Affan, dan lain-lain.
Al-Khuwaibi
Al-Khuwaibi mengatakan bahwa kalimat-kalimat itu merupakan tanbih bagi Nabi. Mungkin ada suatu waktu Nabi berada dalam keadaan sibuk dan lain sebagainya.
Rasyid Ridha
Ungkapan Rasyid Ridha, sedikit berbeda dengan apa yang dikemukakan Al-Khuwaibi. Rasyid Ridha berpendapat bahwa tanbih yag dimaksud di atas adalah dihadapkan kepada orang-orang musrik di Mekkah, kemudia kepada Ahli Kitab di Madinah.
Mufassir dari Kalangan Syi’ah
Kelompok Syi’ah berpendapat bahwa jika huruf-huruf awalan itu dikumpulkan setelah dihapus ulangan-ulanganya maka akan berarti Shiratha `Aly `Ala Haqin “Jalan Ali adalah kebenaran yang kita pegang teguh ”. pentakwilan itu kemudian di jawab oleh kelommpok ahlu sunnah, dan jawabanya berdasarkan pengertian yang mereka peroleh dari huruf-huruf awalan itu yang juga dihapus ulangan-ulangannya, dengan mengatakan “benarlah jalanmu bersama kaum Ahlu sunnah”.
Dari pendapat para ahli tentang wafatih assuwar diatas, dapat dilihat bahwa pentakwilan sebuah ayat sangat banyak macamnya. Hal ini boleh jadi didasari oleh pendidikan dan ilmu-ilmu yang demilikinya serta kecenderungan mereka mengkaji Al-Qur’an secara lebih luas dari sudut pandang masing-masing. Pada prinsipnya tidak menutup kemungkinan bagi mereka (muffasir) untuk melahirkan sebuah tafsir yang dilandaskan dengan ilmu yang mendukung dan memadai bagi seseorang muffasir.

Macam-macam Bentuk Fawatih Assuwar
Sebagaimana yang dijelaskan oleh pemakalah pada pembahasan diatas bahwa fawatih assuwar merupakan istilah untuk ayat-ayat yang mengawali sebuah surah didalam al-qur`an dan semua surah itu tidak ada satupun yang tidak ada fawatih assuwarnya.[10]  Surah-surah Al-Qur`an dimulai dengan berbagai bentuk yang bervariasi, ada yang sama dan adapula yang berbeda[11]  sebagaimana yang telah pemakalah singgung sekelumit tentang fawatih assuwar yang berbentuk huruf muqaththa`ah di atas, ia merupakan salah satu macam bentuk fawatih assuwar, namun alangkah lebih baiknya pemakalah akan :merinci macam-macam fawatih assuwar kedalam sepuluh macam kalimat pembuka surah-surah didalam al-qur`an adalah sebagai berikut.[12]
Surah-surah yang diawali dengan kalimat pujian, menetapkan sifat-sifat pujian kepada-Nya dan meniadakan sifat kekurangan. Dalam menetapkan sifat pujian allah menggunakan dua jenis, yaituالحمد لله  dalam lima surah (alkahfi, assaba`, alan`am, alfatir, dan alfatihah) dan تبارك dalam dua surah (alfurqan dan almulk). Dalam menafikan sifat kekurangan, Allah memakai kata التسبيح dalam tujuh surah yaitu surah bani isra`il (dengan bentuk masdhar), alhadith dan alhasyr (bentuk fi`il madhi), aljumu`ah dan attagabun (fi`il mudhari`), serta ala`la (fi`il amr).
Huruf tahajji/ hijaiyyah terdapat dalam 29 surat dan terdiri dari 14 huruf, yaitu                   ل م ص ر ك ه ي ع ط س ح ق ن ا karena ada beberapa yang diulangi misalnya pengulangan huruf alif, lam dan mim dalam حم المر الم 
Huruf nida’ dalam 10 surat, 5 surat panggilan kepada Rasulullah dalam surat al-Ahzab, at-Talaq, at-Tahrim, al-Muzammil dan al-Mudassir. Lima surat yang lain adalah panggilan kepada umat yakni dalam surat an-Nisa’, al-Maidah, al-Hajj, al-Hujurat dan al-Mumtahanah.
Kalimat berita terdapat dalam 23 surat, yaitu dalam surat al-Anfal, at-Taubah, al-Mukminun, an-Nahl, al-Anbiya’, an-Nur, az-Zumar, Muhammad, al-Fath, al-Qamar, ar-Rahman, al-Mujadalah, al-Haqqah, al-Ma’arij, Nuh, al-Qiyamah, al-Balad, ‘Abasa, al-Qadr, al-Bayyinah, al-Qari’ah, at-Takasur, dan al-Kausar.
Kata sumpah, 15 sutat (at-Tin, ad-Duha, at-Tariq, as-Saffat, adz-Dzaryat, at-Tur, an-Najm, al-Mursalat, an-Nazi’at, al-Buruj, al-Fajr, asy-Syams, al-Lail, al-Adiyat dan al-‘Asr).
Kata syarat dala tujuh surat, yakni al-Waqi’ah, al-Munafiqun, at-Takwir, al-Infitar, al-Insyiqaq, az-Zalzalah dan an-Nasr.
Kata perintah  dalam 6 surat yakni al-Jin, al-‘Alaq, al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas.
Kalimat tanya dalam 6 surat yaitu al-Gasyiyah, an-Naba’, al-Insan, al-Insyirah, al-Fil dan al-Ma’un. Doa dalam tiga 3 yaitu al-Mutaffifinn, al-Humazah dan al-Lahab. 10.  Kalimat ‘at-Ta’lil’ dalam satu surat yaitu Quraisy.

Hikmah Dan Kedudukan Fawatih Assuwar
Sebagaimana yang telah disinggung pada awal-awal pembahasan bahwa fawatih assuwar dengan huruf hija iyyah (Tahajji) berkedudukan sebagai ayat mustabihat karena ayat-ayatnya memiliki makna yang umum bahkan tidak ada satu manusiapun yang mengetahuinya, disamping itu ia juga sebagai penarik perhatian para pendengar karena apabilah awal kalimat tidak indah miskipun kalimat selanjutnya baik, maka hal itu tidak menarik perhatian pendengar. Demikianlah allah mengawali surat dengan fawatih as-Suwar yang dimaksudkan untuk menarik perhatian manusia agar mendengarkan, lalu melihat dan memhami serta mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an.
Adapun hikmah fawatih assuwar yang dapat pemakalah uraikan dalam pembahasan ini antara lain; 1. Hikmah adanya pembukaan surat-surat dengan nida’ yaitu untuk memberi perhatian dan peringatan, baik bagi Nabi, umatnya, maupun untuk menjadi pedoman; 2. Hikmah dari fawatih assuwar dengan sumpah ini, pertama, agar manusia meneladani sikap bertanggung jawab; berbicara harus benar dan jujur dan berani berbicara untuk menegakkan keadilan; kedua, agar dalam bersumpah manusia harus senantiasa memakai nama-nama Allah bukan selain-Nya; ketiga, digunakannya beberapa benda sebagai sumpah Allah dimaksudkan agar benda-benda itu diperhatikan manusia dalam rangka mendekatkan diri keapda Allah, karena pada dasarnya, benda-benda itu ciptaan Allah; 3. Sebagai pengetahuan bagi kita  yang   senantiasa   mengkajinya   bahwa   dalam fawatih assuwar banyak sekali  hal-hal  yang  mengandung  rahasia - rahasia Allah  yang kita tidak dapat mengetahuinya; 4. Sebagai motivasi untuk selalu mancari ilmu dan mendekatkan diri kepada  Allah swt. Untuk menghilangkan keraguan terhadap al-Qur,an terutama bagi kaum islimin yang masih lemah imannya karena sangat mudah   terpengaruh  oleh  perkataan  musuh -musuh islam yang mengatakan bahwa al-qur’an itu adalah buatan Muhammad. Dengan mengkaji Fawatih al-Suwar kita akan merasakan terhadap keindahan   bahasa  al-Qur’an itu  sendiri bahwa al-Qur’an itu datang dari Allah swt;, dan lain-lain.


[1] Kadar M. Yusuf. Studi Al-qur`an, (Jakarta: Penerbit AMZAH, 2012), hal. 53
[2] Kholis Nur.,Pengantar Studi Al-Qur`an dan Al-Hadits , (Bandung: Insan Mandiri,, 2008), hlm. 44
[3] Kadar M. Yusuf. Studi Al-qur`an, (Yogyakarta: Diva Press, 2009), hal. 53
[4] Ibid,. Hal. 54.
[5] Anwar Abu, Ulumul Qur`an: Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Diva Press, 2007), hal. 89

[6] Ibid,. Hal. 89
[7] Ibid,. Hal. 89-91
[8] Kadar M. Yusuf. Studi Al-qur`an, (Yogyakarta: Diva Press, 2009), hal. 56
[9] Abu Anwar,  Ulumul Qur`an: Sebuah PengantarHal.  (Bandung: C.V. Insan Mandiri, 2008), hlm. 94-95
[10] Nur Kholis. Pengantar Studi Al-Qur`an dan Al-Hadits, (Malang: Penerbit Unuversitas Muhammadiyah Malang, 2008), hal. 56
[11] Kadar M. Yusuf. Studi Al-qur`an, (Bandung: Mizzan 1996), hal. 54
[12] Nur Kholis. Pengantar Studi Al-Qur`an dan Al-Hadits. (Bandung: Mizzan, 1997),hal. 56


Hubungi Kami