Logika Aristoteles


Logika Aristoteles


Logika Aristoteles besar pengaruhnya terhadap dunia Islam, hal itu tercermin dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan seperti ilmu logika sendiri, fisika, metafisika, etika dan ketatanegaraa[1]. Namun setelah masa Renaissance pengaruh logika Aristoteles mulai mengalami dekandensi, namun dalam bidang logika masih mempunyai peran besar terhadap perkembangan keilmuan Islam. Hal tersebut dibuktikan dengan masih diterapkannya teori-teori logika Aristoteles di berbagai lembaga-lembaga pendidikan Islam khususnya dalam studi-studi kefalsafahan.

Aristoteles melahirkan metode penciptaan kebenaran dengan silogisme deduktif yang juga sering di istilah kan dengan logika formal, logika klasik, logika silogistik, logika Yunani dan lain-lainnya[2]. Tidak bisa dinafikan bahwa logika adalah karya falsafah terbesar yang dicetuskan oleh Aristoteles, yang menyebabkannya disebut sebagai bapak logika. Kendatipun penamaan kata “logika” pada dasarnya bukan dari Aristoteles sendiri, karena ia lebih menggunakan istilah “analitik” dan “dialektik”. Menurut Bertens, yang pertama kali menggunakan kata logika adalah komentator Aristoteles sendiri, yakni Adromocos Rhodesi, kemudian muncul Cicero dalam arti “dialektika” atau “seni berdebat”, kemudian muncul Alexander Aphrodisias yang menjadi orang pertama yang menggunakan logika dalam arti yang disepakati sekarang (ilmu yang mengatur lurus tidaknya sebuah pemikiran)[3].

Aristoteles mencoba menganalogikan bagaimana kerja logika dalam cabang ilmu pengetahuan. Untuk membangun sebuah bangunan yang megah maka pertama yang dibutuhkan oleh seorang tukang bangunan adalah pekakas, tanpa adanya pekakas bangunan tidak akan jadi[4]. Begitulah kerja logika dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Metode berpikir rasional bagi Aristoteles merupakan metode terbaik untuk memperoleh konklusi demi meraih pengetahuan dan mencapai kebenaran[5]. Ia merupakan seperangkat alat analisis dan cara berpikir yang dengannya mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Maka setiap ilmu dipastikan membutuhkan logika. Inti dasar logika Aristoteles terletak pada silogisme sebagai bentuk formal dari deduksi. Silogisme terdiri dari tiga proposisi, proposisi pertama dan kedua disebut premis, sedangkan preposisi ketiga disebut konklusi dari hasil kedua premis sebelumnya.
Di dunia Timur, perkembangan keilmuan Islam menempati semua lini disiplin ilmu pengetahuan, terjadi pada masa pemerintahan Abbasiyah abad ke-13 Masehi[6]. Pada masa itulah ilmu pengetahuan mencapai puncaknya. Pada masa kekhalifahan Al-Ma’mun pada tahun 215 H, yang mana Baghdad sebagai jantung keilmuan Islam pada masa itu. Berbagai buku-buku Yunani diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh ilmuan Muslim, Aristoteles menempati urutan pertama dari sekian banyaknya buku yang diterjemahkan, terutama terkait dengan dasar peletakan logika Aristoteles sebagai instrumen dalam memperoleh ilmu pengetahuan[7] .


[1] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta; Kanisius, 1981), hlm. 136
[2] Muhammad Taqy al-madarrisy, Manthiq al-Islam; Usguluhu wa Manhijuhu, (Beirut; Dar al-Jalil,1977), hlm, 27.
[3] Aly Al-Wardy, Mantiq Ibn Khaldun, (Tunis: Al-syirkal al-Tunisiyah li al-Tauzi, 1977), hlm. 19.
[4] Dr.Zainun Kamal, M.A. Ibn Taimiyah versus para filosof, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006),hlm. 3.


[5] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm. 3.
[6] Aly Al-Wardy, Mantiq Ibn Khaldun, (Tunis: Al-syirkal al-Tunisiyah li al-Tauzi, 1977), hlm. 10.
[7] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta; Kanisius, 1981), hlm. 52

Hubungi Kami