Konsep Akhlak Menurut Ibnu Miskawaih


   
A. Biografi Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih lahir pada tahun (330-421 H/940-1030 M). Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub bin Miskawaih. Ia lahir di Rayy (Teheran, ibu kota Republik Islam Iran sekarang) beliau wafat pada usia lanjut di Isfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/16 Februari 1030 M. Ibnu Miskawaih hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaihi di Baghdad(320-450 H/932-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermazhab Syi’ah.

Puncak prestasi kekuasaan Bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud Al-Daulah yang berkuasa tahun 367-372 H, perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusastraan amat besar, sehingga pada masa ini Miskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud Al-Daulah dan pada masa ini jugalah Miskawaih muncul sebagai seorang filsuf, tabib, ilmuwan dan pujangga. Tetapi keberhasilan politik dan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa itu tidak dibarengi dengan ketinggian akhlak, bahkan dilanda kemerosotan akhlak secara umum, baik dikalangan elite, menengah, dan bawah. Tampaknya hal inilah yang memotivasi Maskawaih untuk memusatkan perhatiannya pada etika Islam.

Pada zaman raja ‘Adhudiddaulah, Ibnu Miskawaih juga mendapat kepercayaan besar dari raja lalu diangkat sebagai penjaga (khazin) perpustakaannya yang besar, disamping sebagai penyimpan rahasianya dan utusannya ke pihak-pihak yang diperlukan.
B. Riwayat Pendidikan Ibnu Miskawaih
            Dari latar belakang pendidikan secara formal Ibnu Miskawaih tidak ditemukan data secara terperinci. Tapi yang dapat kita jumpai dibeberapa referensi bahwa Ibnu Miskawaih pernah belajar sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi, kemudian belajar falsafah dari Ibn al-Akhmar, belajar kimia dari Abu Tayyib. Ibnu Miskawaih mempunyai banyak keahlian dalam bermacam-macam bidang yang sudah ia pelajari sampai menjadikan dirinya seorang yang jenius, cerdas, dan berakhlak mulia.
Dari beberapa ilmu yang ia pelajari ada satu ilmu yang paling menonjol diantara ilmu-ilmu lain yang ia kuasai yaitu ilmu falsafah. falsafah Ibnu miskawaih lebih berorientasi pada akhlak. Dengan hal itu Ibnu Miskawaih DIberi gelar bapak etika Islam, yang  karena keahliannya dalam berbagai ilmu terutama dalam bidang akhlak. Bagi Ibnu Miskawaih hal yang sangat menarik untuk dikaji pada masa itu adalah tentang akhlak lantaran kondisi prilaku manusia pada waktu itu sangat memprihatinkan.
Ibnu Miskawaih bekerja menjadi bendaharawan, sekretaris, pustakawan dan pendidik anak para pemuka dinasti Buwaihi. Pergaulan Ibnu Miskawaih sangat luas tidak hanya pada masyarakat kecil saja akan tetapi juga dengan para ilmuan-ilmuan besar pada masa itu seperti Abu Hayyan at-tauhidi, Yahya Ibnu Adi dan Ibnu Sina dll. Sehingga tidak menutup kemungkinan jikalau Ibnu Miskawaih giat dalam mencari ilmu dan menjadi pemikir hebat, Selain beliau ahli dalam falsafah  ia juga seorang dokter, penyair dan ahli bahasa.
Ibnu Miskawaih menmperoleh gelar guru ketiga ( al-Mualimin al-Tsalits ) setelah al-Farabi yang digelari guru kedua ( al-Mualimin al-Tsani) sedangkan yang dianggap guru pertama (al-Mualimin al-Awwal ) adalah Aristoteles.
Sebagai bapak Etika Islam, beliau telah merumuskan dasar-dasar etika dalam kitabnya Tahdzib al-Akhlak wa Tathir al-A’raq (pendidikan budi dan pendidikan akhlak). Sementara itu sumber filsafat etika Ibnu Miskawaih berasal dari filasafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam, dan pengalaman pribadi. [2]
Ibnu Maskawaih adalah seoarang yang ahli  dalam bidang akhlaq artinya ia telah mengupas filsafat akhlaqiyah secara mendalam. Ini tidaklah berarti bahwa Ibnu Maskawaih tidak berakhlaq, hanya saja persoalannya ditinjau dari segi pengetahuan semata-mata.

C. Karya-kaya Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih selain seorang pemikir yang fenomenal beliau juga banyak mempunyai banyak karya-karya tulis (buku) sebagai berikut :
Ø  Al Fauz al Akbar
Ø  Al Fauz al Asghar
Ø  Tajarib al Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar yang ia tulis pada tahun   369 H/979 M).
Ø  Uns al Farid (Koleksi anekdot, syair, pribahasa, dan kata-kata hikmah)
Ø  Tartib al Sa`adat (tentang akhlak dan politik).
Ø  Al-Mustaufa (tentang syair-syair pilihan)
Ø  Jawidan Khirad (koleksi ungkapan bijak)
Ø  Al-Jami`
Ø  Al-Siyab
Ø  Kitab al-Ashribah
Ø  Tahzib al-Aklaq
Ø  Risalat fi al-Lazzat wa al Alam fi Jauhar al-Nafs
Ø  Ajwibat wa As`ilat fi al-Nafs wa al `Alaq
Ø  Thaharat al-Nafs dan lain-lain.

D. Pemikiran Falsafah Akhlak Ibnu Miskawaih
            Paradigma pemikiran Ibnu Miskawaih dalam bidang ahklak memiliki keunikan-keunikan tersendiri, hal ini dibuktikan oleh pernyataan fenonenal pemikiran Ibnu Miskawaih tentang akhlak yaitu,  akhlak bagi Ibnu Miskawaih merupakan sikap mentalitas manusia untuk mendorong seseorang dalam melakukan perbuatan  tanpa berpikir dan pertimbangan yang dalam. Akhlak senantiasa dapat diubah melalui kebiasaan serta pelajaran yang baik. Hal demikian menafikkan pendapat filsuf Yunani yang mengatakan bahwa akhlak tidak bisa dirubah dengan cara apapun karena akhlak berasal dari watak dan pembawaan sejak lahir.
            Menurut Miskawaih khuluq yang artinya sikap, tindakan, tindak-tanduk, dan sikap inilah yang akan membentuk sikap kita. Dengan kata lain, akhlak merupakan keadaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan secara spontanitas tanpa berpikir dan pertimbangan yang dalam. Keadaan jiwa itu bisa merupakan bawaan fitrah atau alamiah dan bertolak dari watak dan bisa pula berubah dengan cara latihan dan pembiasaan dalam diri.  Dengan demikian dapat dipahami bahwa besar kemungkinan manusia akan mengalami perubahan sikap. Dan dari segi inilah, manusia dalam perkembangannya memerlukan aturan-aturan agama, serta bimbingan yang baik dan akan menghasilkan hasil yang berbeda-beda sesuai kebiasaan dan latihannya sehari-hari.
                     Tujuan ilmu akhlak adalah membawa manusia kepada kesempurnaan. Kesempurnaan manusia terletak pada pemikiran dan amal perbuatan. Yaitu kesempurnaan ilmu dan kesempurnaan amal. Tugas ilmu akhlak terbatas pada sisi amal perbuatan saja, yakni meluruskan akhlak dan mewujudkan kesempurnaan moral seseorang, sehingga tidak ada pertentangan antar berbagai daya dan semua perbuatannya lahir sesuai dengan daya berpikir.[4]
         Berbicara tentang akhlak maka ada tiga pokok pembahsan akhlak menurut Ibnu Miskawaih yaitu :
·         Kebaikan (al–Khair)
·         Kebahagiaan (al-Sa’adah)
·         Keutamaan (al-Fadhillah). 
1). Kebaikan (al-khair)
Maskawaih membedakan antara al-khair (kebaikan) dengan al-sa’adah (kebahagiaan). Dimana kebaikan menjadi tujuan semua orang: kebaikan umum bagi seluruh manusia dalam kedudukan sebagai manusia. Sedangkan kebahagiaan adalah kebaikan bagi seseorang, tidak bersifat umum, tetapi relatif tergantung kepada orang perorang.
Menurut Miskawaih kebaikan dibagi menjadi dua variable yaitu, kebaikan umum dan kebaikan khusus. Kebaikan umum adalah kebaikan bagi seluruh manusia dalam kedudukannya  sebagai manusia, kebaikan khusus adalah kebaikan bagi seseorang secara pribadi yang bisa di sebut kebahagaiaan.
Jadi antara kebaikan dan kebahgiaan dapat dibedakan. Kebaikan mempunyai identitas tertentu yang berlaku bagi manusia, sedangkan kebahagiaan berbeda-beda tergantung kepada orang-orang yang memperolehnya.

2). Kebahagiaan (al-sa’adah)
            Ada dua pendapat pokok mengenai kebahagiaan (al-sa’adah) yang pertama dilontarkan  oleh Plato yang mengatakan bahwa hanya jiwalah yang mengalami kebahagiaan. Karena kalau jiwa masih berhubungan dengan raga ia tidak akan memperoleh kebahagiaan. Pendapat kedua dipelopori oleh Aristoteles, yang mengatakan bahwa bahwa kebahagiaan dapat dinikmati di dunia selagi jiwa masih berhubungan dengan badan.
Miskawaih mencoba mengompromikan kedua pandangan yang berlawanan itu. Menurutnya, karena pada diri manusia ada dua unsur, yaitu jiwa dan badan, maka kebahagiaan meliputi keduanya. Hanya kebahagiaan badan lebih rendah tingkatnya dan tidak abadi sifatnya jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa. Kebahagiaan yang bersifat benda mengandung kepedihan dan penyesalan, serta menghambat perkembangan jiwanya menuju ke hadirat Allah swt. Kebahagiaan jiwa merupakan kebahagiaan yang sempurna yang mampu mengantar manusia menuju derajat malaikat.

3). Keutamaan (al-fadhillah)
Menurut Miskawaih asas semua keutamaan (al Fadilah) adalah cinta kepada semua manusia. Manusia tidak akan mencapai kepada tingkat kesempurnaan kecuali dengan saling membantu sesamanya dan menunjukkan pengertian terhadap sesama jenisnya. Selanjutnya Miskawaih menjelaskan bahwa cinta tersebut tidak akan tampak bekasnya kecuali jika manusia berada di tengah-tengah masyarakat dan bermanfaat untuk makhluk lainnya. Sebaliknya manusia yang memisahkan diri atau bersikap acu tak acu  pada manusia lainnya tidak akan pernah mencapai posisi sempurna.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita tarik seksimpulan bahwa asas semua keutamaan adalah cinta kepada Allah yang kemudian dimanifestasikan pada cinta terhadap sesama makhluk-Nya. Oleh karena itu, keutamaan akan tampak jika manusia berada di tengah masyarakat dan bisa bermanfaat untuk manusia yang lain, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.


[1] Prof.Dr. Juhaya S.Praja, M.A.,Pengantar Filsafat Islam, Bandung:Penerbit Pustaka setia:2009. Hlm 110
2 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosuf dan Filsafatnya, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009. Hal. 127.

3 M.M. Syarief, Para Filosof of Muslim, (Bandung : Mizan, 1998). Hal. 84
4Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam ,...Hal. 6..
5.Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). Hal. 56.
6 Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003). Hal. 5.
7Prof.Dr. Juhaya S.Praja, M.A.,Pengantar Filsafat Islam, Bandung:Penerbit Pustaka setia:2009. Hlm 112


8 Prof Dr. Juhaya S.Praja,.M.A.pengantar filsafat islam.Bandung: penebit.Pustaka setia:2009.hlm 112
9Daudy, Ahmad. Kuliah Filsafat Islam, Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1992.hlm. 147
9 Daudy, Ahmad. Kuliah Filsafat Islam, Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1992.hlm. 84
10Miskawaih, Ibn, Tahdzib al-Akhlak, diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju Kesempurnaan Akhlak, Cet. I; Bandung : Mizan,1994), hlm. 34-44.
11 Afifun Nidlom, “Filsafat Akhlak Ibn Miskawaih”, http; //www kajiislam. worpress .com. Diakses tanggal 27 November 2012.
12Saleh Partaonan Daulay, “Pendidikan Akhlak Dalam Perspektif Ibnu Maskawaih”, dalam Jurnal TA`DIB, Vol. VII, No. 2., Edisi Nopember 2003
13Miskawaih, Ibn, Tahdzib al-Akhlak, diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju Kesempurnaan Akhlak, Cet. I; Bandung : Mizan,1994), h. 253.

Hubungi Kami