Insan Kamil



    
    Pengertian dan Hakikat Insan Kamil
Insan kamil adalah konsep manusia paripurna. Manusia yang berhasil mencapai puncak prestasi tertinggi dilihat dari beberapa dimensi. Insan kamil Artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofis ini pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili, gagasan ini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis.
Al-Jili merumuskan insan kamil ini dengan merujuk pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya/roh) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini.
           Bagian terpenting dari tujuan sufi adalah memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan sehingga dirasakan dan disadari berada dihadirat Tuhan. Keberadaan dihadirat ini diyakini sebagai kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki. Akan tetapi dalam mengartikan hadirat Tuhan itu ternyata terdapat perbedaan konseptual, perbedaan ini bersumber dari ketidak samaan konsepsi mereka mengenai hakikat tindakan manusia.  Sebagian  sufi berpendapat bahwa Allah adalah puncak kecantikan dan kesempurnaan, sementara yang lain mengartikan sebagai iradhah dan juga disebut ilmu atau ma’rifah.[1]
            Seperti diungkap pada bab pendahuluan bahwa Al-Jili memandang insan kamil sebagai wadah tajalli Tuhan yang paripurna. Pandangan demikian didasarkan pada asumsi, bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas. Realitas tunggal itu adalah wujud mutlak yang bebas dari segenap pemikiran, hubungan, arah dan waktu. Ia adalah esensi murni, tidak bernama, tidak bersifat dan tidak mempunyai relasi dengan sesuatu.[2]
Di dalam Kesendirian-Nya yang gaib itu esensi mutlak tidak dapat dipahami dan tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan-Nya, karena indera, pemikiran, akal, mempunyai kemampuan yang fana atau tidak pasti, hal yang tidak pasti akan menimbulkan ketidakpastian pula. Karena itu tidak mungkin manusia yang serba terbatas akan dapat mengetahui Zat Mutlak itu Secara pasti. Al-Jili mengatakan, “Sesungguhnya saya telah berusaha memikirkannya, namun bersama itu pula saya bertambah tidak tahu tentang Dia.” Ungkapan tersebut senada dengan ucapan Ibn ‘Arabi, “Tidak ada yang mengetahui Allah Kecuali Allah sendiri.[3]
Dzat Allah Jallah Jalaalah Ibarat diri-Nya, yang bersama dzat tersebut maujud (ada) Karena Dia berdiri Sendiri. Dia adalah Zat yang berhak atas nama-nama dan sifat-sifat serta Hawiyah (Ke-Dia-an), yang dengan itu Dia mencitrakan Diri Nya dalam Segala Citra pada setiap wujud. Dia bersifat dengan segala sifat sejalan dengan kebutuhan sesuatu yang menghajatkan persifatan, Wujud-Nya berhak atas segala isim (nama) yang menunjukkan kepada pemahaman Al Kamaal (kesempurnaan)  eksetensi-Nya. Hakikat kesempurnaan-Nya adalah tidak berakhir dan tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala sesuatu adalah berdasarkan hukum kemustahilan bahwa Dia memiliki sifat Jahl (bodoh).[4]
Untuk kita ketahui bersama bahwasanya Dzatullah adalah  Ghaib al Ahadiyah ( Ghaib dalam Ke-Esa-an), setiap ibarat dipresentasikan kepada Nya tidak akan mencakup (menyentuh) pemaknaan yang utuh karena wajah-wajah ibarat memilik multi persepsi. Maka hakekat kesempurnaan-Nya dan kesejatian diri-Nya yang tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata, adalah berlanskapkan pemahaman ibarat, adapun dalam pemahaman isyarat, pada realitanya tidaklah demikian, sebab sesuatu hanya bisa di pahami sejalan dengan akurasi, kelaziman, kepatutan, kesesuaian atau dengan sesuatu yang berlawanan dengannya. Inti Dzat Nya sama sekali tidak ada kesamaan, keserupaan, atau berlawanan dari segala wujud ciptaan-Nya. Dia tidak terkait dengan Istilah-Istilah yang sering dipakai manusia. Dia tidak ada satupun dari makluk-Nya yang bisa mencapai dengan penglihatan mata. Al Mukallim (insan yang berbicara) tentang inti (dzat) al Haq akan diam, Insan yang bergerak akan berhenti, insan yang melihat akan terpejam. Dia dapat dipersepsikan dengan akal namun daya persepsi ( al Idrak) yang lahir dari akal dan pemahaman yang sangat terbatas jakauannya, persepsi logika tidak akan pernah menyentuh Kesejatian diri-Nya. Dia tidak Terkait dengan pelik pengetahuan yang berdemensi Hudust (ada, karena diadakan), serta demensi Qadim ( ada tidak di dahului oleh sesuatu).[5]
Wujud Mutlak adalah bertajalli secara sempurna pada semesta alam yang serba-ganda ini. Tajalli terjadi bersamaan dengan penciptaan alam yang dilakukan oleh Tuhan dengan Kodrat-Nya dari tidak menjadi ada. Menurut Al-Jili, Alam ini bukanlah diciptakan Tuhan dari bahan yang telah ada, tetapi di ciptakan-Nya dari ketiadaan dalam Ilmu-Nya. Kemudian, wujud alam yang ada dalam ilmu-Nya, itu dimunculkan dengan dengan kodrat-Nya menjadi alam emperis. Jadi, penciptaan makluk ialah dari ‘adam (tidak ada) kemudian muncul dalam ilmu Tuhan, dan seterusnya menjelma alam nyata.[6]
 Al-Jili mengatakan: Allah Swt memiliki wujud yang pertama karena kebebasan-Nya yang mandiri, sementara makluk memiliki wujud yang kedua karena ketergantungan kepada Allah. Dalam wujud yang pertama makluk ini tidak ada, lalu Tuhan menciptakannya secara ilahiah dari ketiadaan sejati di dalam ilmu-Nya, kemudian di jadikan alam ilmi (lingkup pengetahuan ilahi) ke alam nyata, dengan kodratnya dan penciptaan-Nya akan makluk dari tidak ada, lalu ada dalam ilmu Tuhan, dan kemudian ada dalam alam nyata.[7]
Penciptaaan itu dikatakan dari tidak ada, karena sebelum alam ini ada didalam ilmu Tuhan, ia belum ada sama sekali, yang ada pada ketika itu hanya Zat Tuhan satu-satunya. Oleh karena itu jika ada terdapat wujud lain selain dari zat-Nya, ini berarti ada yang menyamai Tuhan dalam keqadimannya-Nya. Mahasuci Tuhan dari hal demikian.[8]
Eksistensi alam ini, merupakan wadah tajalli Ilahi. Akan tetapi empiris yang di tandai dengan kesebergandaan ini berada dalam wujud yang ditandai dengan kesebergandaan ini berada dalam wujud yang terpecah sehingga tidak  dapat menampung citra Tuhan secara utuh, bagian alam ini merupakan wadah tajalli dari bagian-bagian tertentu  dari citra Tuhan. Tuhan baru dapat melihat citra diri-Nya secara paripurna pada Adam (manusia), yakni Insan Kamil. Jadi, insan kamil merupakan Nuskhah (kopi) Tuhan, seperti hadist yang telah di ungkap dalam pendahuluan.
Jadi dari satu sisi, insan kamil merupakan wadah tajalli Tuhan yang paripurna, sementara di sisi lain, ia merupakan miniatur segenap jagat raya, karena pada dirinya terproyeksi segenap realitas individual dari alam semesta baik alam fisika maupun metafisika. Hati insan kamil berpadanan dengan arasy Tuhan; “ke-Aku-an”-nya sepadan dengan kursi Tuhan; peringkat rohaninya dengan sidratul muntaha; akalnya dengan pena tinggi; jiwanya dengan lauh mahfuz; tabiat dengan elemen-elemen; kemampuan dengan hayula; tubuhnya dengan haba dan lain-lain.
Selain itu, insan kamil adalah kutub yang diedari oleh segenap alam wujud dari awal hingga akhirnya dan ia hanya satu, sejak permulaan sampai akhirnya akan tetapi ia muncul beragam bentuk dan menampakkan dirinya dalam berbagai kultus, ia di panggil sesuai dengan bentuknya (manusia yang menjadi perwujudannya), tidak dipanggil selain itu. Ia muncul dalam setiap zaman dalam bentuk sempurna. Dari segi lahir ia berkedudukan sebagai khalifah dan dari segi batin sebagai hakikat dan segalanya.
Al-Jili membagai insan kamil atas tiga tingkatan. Tingkatan pertama disebutnya dengan tingkatan permulaan (al bidayah), pada tingkatan ini insan kamil mulai dapat merealisasikan asma dan  sifat ilahi pada dirinya. Tingkat kedua ialah tingkat menengah (al-tawassuth). Pada tingkatan ini insan kamil sebagai orbit kehalusan sifat kemanusiaan yang terkait dengan realitas kasih Tuhan (Al-Haqa’iq al-rahmaniyah). Sementara itu, pengetahuan yang dimiliki  oleh insan kamil pada tingkat ini juga telah meningkatkan pengetauan biasa, karena sebagian dari hal-hal gaib telah dibukakan Tuhan kepadanya. Tingkat ketiga  ialah tingkat terakhir (al-khitam). Pada tingkat ini insan kamil telah merealisasikan  citra Tuhan secara utuh. Di samping itu, ia pun telah dapat mengetahui rincian dari rahasia penciptaan takdir. Dengan demikian, pada diri insan kamil sering terjadi yang luarbiasa.[9]

     Proses Munculnya Insan Kamil
Al-jili membawa teori tajalli dan taraqqi dalam proses munculnya insan kamil, dalam teori tajalli insan kamil muncul sebagai sintesis dari makrokosmos yang permanen dan aktual serta sekaligus sebagai cerminan citra Tuhan secara paripurna, sementara dalam teori taraqqi adalah muncul sebagai makluk peringkat tertinggi di antara makluk yang ada dalam menapaki maqamat kerohanian.[10]
Menurut Al-Jili, tajalli ilahi yang berlangsung secara terus menerus pada alam semesta terdiri lima martabat, masing-masing martabat itu adalah: pertama, martabat uluhiyah, kedua martabat ahadiyah, ketiga, martabat wahidyah, keempat, martabat, martabat rahmaniyah, dan yang kelima, martabat rubibiyah. Martabat uluhiyah merupakan esensi (quiddity) dari zat primaordial, yang menjadi sumber dari wujud dan yang ‘adam. Yang kadim dan yang hadist, al haqq, dan al-khalq. Tajalli pada peringkat ini baru berupa “pemberian hak kepada yang berhak”, yakni memberikan wujud kepada martabat-martabatnya  di bawahnya. Hubungan esensi dari realitas zat dengan zat itu sendiri, agaknya sama dengan hubungan antara molekul-molekul zat air (H2O) dan zat air. Al-Jili mengumpukannya dengan hubungan lembagai yang ada di dalam biji korma dan pohon korma. Lembaga yang ada  di dalam bji kurma sekalipun tidak kelihatan , merupaka inti yang bakal menumbuhkan sebatang pohon kurma. Akan tetapi, tamsilan tersebutdan yang di umpakan Al-Jili belum dapat dikatakan sempurna dalam menggambarkan martabat di bawahnya.[11]
Dikatakan Al-Jili, bahwa martabat uluhiyah merupakan martabat tertinggi dalam urutan tajalli Ilahi, karena di dalamnya tercakup segenap realitas dari segala sesuatu. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan tajalli berikutnya, martabat uluhiyah merupakan sumber primer dari segalanya, baik yang wujud maupun yang ‘adam. Dari itu tidak dapat di sebut sebagai wujud ataupin ‘adam, tetapi merupakan ensensi dari realitas yang tidak terbaatas. Sehingga, mustahi dapat di pikir  oleh manusia yang serba terbatas.
Dari martabat uluhiyah muncul martabat ahadiyah, yang merupakan sebutn dari zat murni , tanpa nama, tan sifat, dan tida ada suatu gejala apa pun yang muncul darinya.. zat murni itu sendiri merupakan pengungkapan diri wujud mutlak, yang terlepas dari segala kaitan, relasi, dan dari segi apapun. Zat murni itu bukan berada di luar wujud mutlak, tetapi merupan totalitas dari wujud mutlak itu sendiri. Zat  Tuhan pada taraf ini masih merupakan “gaib mutlak” yang tidak dapat diketahui karena Dia belum mempunyai kaitan dengan relasi dengan yang lain. Karena Ia tidak dicapai dengan ilmu penbgetahuan, maka tidak ada kalimat ataupun kata-kata yang dapat menggambarkan-Nya. Dengan demikian kata Vir Valiuddin, ahadiyah merupakan suatu keaadaan zat Tuhan Tanpa Warna, akibatanya zat Tuhan pada peringkat ini tidak mungkin di capai oleh pengetahua. Acuan mengenai ini terdapat dalam alquran “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan dan apa yang ada dibelakang mereka, tetapi ilmu mereka tidak dapat meliput-Nya.
Di bawah martabat   ahadiyah terdapat martabat wahidiyah, yakni tajalli zat pada sifat . degan demikian, pada zat murni itu terdapat kualitas (sifat). Sifat-sifat itulah kata Al-Jili yang mengantarkan kita untuk mengetahui keaadaan zat. Dari kelihatan, bahwa sifat berbeda dengan zat. Akan tetapi hal itu tidak akan senantiasa demikian , karena sifat dapat juga mengambil posisi sebagain ‘ayn zat. Perbedaan antara zat dan sifat dapat di pertahankan, kata iqbal hanya sejauh mana sifat itu dapat termanifestasikan secara mandiri, perbedaan karena ada disintegrasi. Ambil contoh, sifat dermawan. Sifat dermawan itu sendiri tidak diketahui, yang di ketahui hanya efeknya. Efek itu merupakan manifestasi dari sifat tersebut. Jika sifat itu dapat diungkapkan dalam dunia riil, maka pemisahannya dari zat  tentu mungkin pula. Bila demikian halnya , tentu sifat tidak identik dengan zat. Hal demikian berbeda dengan sifat-sifat esensi Tuhan, yang tidak mungking dapat dipisahkan dari zat dari sisi manapun. Misalnya Esa, tidak mungkin dapat dipisahkan dan dibedakan dari zat Tuhan.[12]
Kalau pada martabat wahidayah Tuhan bertajjalipada sifat-sifat dan asma-Nya sehingga melahirkan sejumlah realitas yang berupa potensi-potensi, maka pada martabat rahmaniyah Tuhan bertajalli pada ralitas-realitas asma dan sifat, dan dengan kata kun (jadilah), muncullah reaitas-reaitas potensial tadi menjadi wujud aktual, yakni alam semseta. Penciptaan alam inilah kata Al-Jili sebagai permulaan rahmat yang dicurahkan Allah. bersama penciptaan alam Tuhan pun bertajalli padanya. Maka tercerminlah kesempurnaan citra-Nya pada setiap bagian dan partikel alam, namun Dia tidak terbilang dengan terbilangnya wadah terjallitersebut, tetapi tetap Esa (wahid) dalam segenap wadah terjalli-Nya, Esa ( ahad), sesuai dengan kehendak zat-Nya, sementara Ia sering tidak terbagi-bagi, segala sesuatu yang ada di alam  ini adalah kesempurnaan-Nya.[13]
Pada martabat rahmaniya inilah Tuhan, dengan segenap asma dan sifat-Nya, bertajalli pada alam semseta secara global, baik asma dan sifat-sifat zatnya, seperti al-Ahad, Al Wahid, Al-Shamad, dan lain-lain maupun asma dan sifat-sifat yang mempunya ta’alluq (kaitan) dengan makhluk, seperti al Qadir, Al-Aim, dan Al-sami. Lalu martabat rububiyah asma dan sifat-sifat yang terkat dengan makhluk memanifestasikan dirinya dri secara rinci pada peringkat-peringkat dan bagian-bagian alam tersebut.[14]
Kemudian, dibawah  martabat rububiyah masing-masing asma dan sifat Ilahi yang tidak terbatas itu menampakkan diri pada alam semseta yang terbatas dan terpilah-pilah. Karena itu, asam dan sifat-sifat itu tidak kelihatansecara utuh, tetapi terpilah-pilah pada bagian-bagian dari alam ini. Asma dan sifat-sifat itu baru terpadu secara utuh dari paripurna pada insan kamil, karena dia ciptakan Tuhan sesuai dengan citra-Nya. Oleh karena itu, jika dikatan Hayy (yang hidup), Alim(Yang Maha Mengetahui), Qadir (Yang Mahakuasa), Murid ( Maha Berkehendak), Sami ( Yang Maha Mendengar), Bashir ( Yang Maha Melihat ), Mutakallimin ( Yang Berbicara), demikian pula halnya dengan insan kamil. Perbedaannya hanya pada kemutlakan dan keterbatasn, karena ia sebagai asal, sementara bayang ada pada insan kamil adalah terbatas, karena manusai hanya “dipinjami” asma dan sifat-sifat tersebut.[15]
Al –Jili membagai tajalli Ilahi itu atas empat
Ø  Pertama, tajalli perbuatan-perbuatan (tajalli af’al)
Ø  Kedua, tajalli nama-nama (tajalli al asma)
Ø  Ketiga, tajalli sifat-sifat (tajalli al-shifat)
Ø  Keempat, Tajalli zat (tajalli al-dzat)[16]

Insan kamil, seperti telah disebutkan , bukan semata-mata, sebagai sentesis dari tajalli Ilahi, tetapi juga merupakan hasil upaya manusia dalam meningkatkan martabat kerohaniannya. Upaya peningkatan martabat kerohaniannya itu, menurut Al-Jili merupakan proses kembali ke hadirat Ilahi dengan menyusuri tajali-tajali di atas sehingga samapi kepada Zat Yang Mutlak.
Menurut Al-Jili, untuk mencapai tingkat-tingkat tajalli di atas, dalam rangka mencapai tingkat insan kamil, orang harus mulai dengan pengamalan rukun islam secara baik, yang meliputi ikrar kaimat syahadat,  mendirikan shalat, membayar zakat,  melaksanakan puasa dan melaksanakan haji. Semua itu harus dilakukan secara sempurna, baik lahir dan batin. Dari segi lahir, hendaknyalah yang dilakukan itu sesuai dengan petunjuk-petunjuk styariat, sematara dari segi batin, makna-makna yang terkandung di dalam amal-amal itu harus dihayati secara baik.
Di samping itu, sufi harus menyakini rukun iman: yakin akan adanya Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,  rasul-rasiul-Nya, hari akhir, dan qadar. Keyakinan terhadap semua yang gaib itu haruslah secara mantap seperti menyakini apa yang ditangkap oleh indera. Karena iman adalah cahaya dari cahaya-cahaya Ilahi, maka melalui cahaya itu sufi dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala.
Selanjutnya, bertolak dari islam dan iman, sufi memasuki tingkat as-shalah (kesalehan) dengan senantiasa melaksnakan ibadat kepada Allah atas Dasar Khwf(takut/cemas) dan raja’ (Harap), Setelah itu, sufi memasuki tingkat al-ihsan ( kebajikan) dengan menempuh tujuh maqam, yaitu: tobat, inabah (tobat dari kelalaian terthadap Tuhan menuju kondisi yang senantiasa mengingatNya), zuhud, tawakkal, rels, tawid(tawakal sebelum, sedang dan sesudah berusaha), dan ikhlas dalam segala hal. Pada maqam tawal, sufi telahg memasuki tingka awal tajalli Tuhan yang disebut diatas, yakni tajalli al-af’al, dimana pada tingakt ini sufi disinari perbuatan-perbuatan Tuhan.
Bertolak dari islam, iman kesalehan dan ihsan sufi memasuki tingkat al-syahadah ( penyaksian). Disini sufi harus menguatkan kemauan dalam cinta kepada Allah, mengingat, dan melawan hawa nafsu.  Setelah itu, ia kakan samapi pada tingkat al-shiddiqiyah (kebenaran). Pada peringkat ini sufi mencapai tingkat makrifat dalam tiga bentuk’ilm yakin; kedua, ‘ayn al Yaqin, dan yang ketiga, haaq al yaqin. Dengan demikian, sufi telah memasuki tingkat-tingkat tajalli yang telah disebutkan diatas,  pada tingkat ‘ilm yaqin, sufi sufi disinar oleh sifat-sifat Tuhan, pada tingkat haqq al-yaqinsufi disinari oleh zat Tuhan, dan pada tingakt haqq al-yaqin sufi disinari oleh zat Tuhan. Dengan demikian diri sufi sirna (fana) di dalam asma, sifat-sifat, zat tuhan. Akhirnya sufi sampai pada tingkat qurbah, yakni berada sedekat mungkin disisi Allah. Dengan berada sedekat-dekatnya di sisi Allah, maka pada diri sufi telah terpantul sifat-sifat dan asma Tuhan secara jelas. Ketika itu tercapailah tingkat insan kamil.
Dengan demikian, jelas bahwa insan kamil merupakan produk akhir dari proses tajalli Tuhan pada alam semseta, yang mecerminta citra Ilahi yang utuh. Akan tetapi, hal demikian baru dapat tercapai setelah manusia mengembangkan dirinyadengan menyerapkan sifat-sifat dan Asma Allah sebanyak-banyaknya. Dengan menyerap sifat-sifat dan asma Allah sebanyak-banyaknya itu mengakibatkan terjadi transformasi spritual yang mengubah kepribadian sufi dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Sehingga samapi pada tingkat tertinggi, yakni tingkat insan kamil. ‘

     Kedudukan Insan Kami
                 Al-Jili memandang Insan Kamil berkedudukan sebagai khalifah Tuhan di bumi. Hal itu adalah karena pada insan kamil terdapat kemampuan-kemapuan yang melebihi kemampuan manusia kebanyakan, bagi dari segi kepribadian, maun pengetahuan. Kelebihan itu, tidak lain karena pada insan kamil terealisasi segenap asama dan sifat-sifat secara utuh. Jadi ketinggian martabat insan kamil. Secara ontologis, ialah karena pada dirinya tercermin asma dan sifat-sifat Tuhan secara utuh, sehingga apabila Tuhan ingin Melihat citra diri-Nya. Ia pun melihat kepada insan kamil.[17]
 Insan kamil menduduki jabatan ma’nawiyah seperti dikatan ibn Arabi, lalu apabila sebagian sifat-sifat dan asma itu di aplikasikan di tengah-tengah masyarakat, maka insan kamil pun akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di tengah-tengah masyarakat itu. Atas dasar kelebihan itu masyarakat berkenan menjadikannya khalifah. Khalifah dalam bentuk ini yang di sebut oleh ibn Arabi dengan Khalifah Zhahiriyah. Akan tetapi, jabatan ini tidak mesti tercapai, karena bukan merupakan  kedudukan permanen. Kedudukan yang permanen ialah sebagai khalifah ma’nawiyah..[18]
Al-Jili mempunyai pandangan tentang kedudukan Insan Kamil sebagai khalifah Tuhan yang menjadi asas, penyebab, dan pelestarian eksistensi dan alam semseta. Lebih jauh, Al-Jili menguatkan kedudukan itu dengan mengemukakan alasan bahwa hanya pada diri manusia terdapat tujuh daya rohaniah yang dapatmembuat alam ini menjadi eksis dan lestari. Ketujuh daya itu merupakan aspek-aspek dari nur Muhammad. Daya itu adalah hati (qalb), akal (aql), estimasi(wahm), meditasi (himmah), pikiran (fikr)fantasi (khyal), dan jiwa (naf). Dengan tujuh saya rohaniah itu insan kamil yang merupakan identifikasi hakikat. Muhammad menjadi Alam ini tetap eksis dan lestari.[19]
Kalau pada aspek ontologis insan kamil berkedudukan sebagai khalifahTuhan, maka pada aspek mistis,  insan kamil berkedudukan sebagai wali tertinggi dalam herarki spritual kaum sufi. Menurut Al-Jili, kewalian adalah suatu bentuk hubungan dekat   ( dan sekaligus pengusaan) al-Haqq yang maha suci lagi mahatinggi terhadap hamba-Nya, dengan memanifestasikan asam dan sifat asama dan sifat-sifat-Nya  atas hamba-Nya itu, baik dari segi pengetahuan, entitas, hal, kedudukan wali itu tercapai setelah sufi samapi pada martabat shiddiqiyah dan qurbah. Pada martabat shiddiqiyah  sufi memasuki tingkatan ‘ilm al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, haqq al-yaqin, , pada tingkat ‘ilm al-yaqin sufi disinari oleh asma Tuhan. Maka tingkat ini disebut tajalli al-asma. Pada tingkat ‘ayn al-yaqin disinari oleh sifat-sifat Tuhan.  Maka tingkatg ini di sebut tajalli al-shifat. Sedangkan pada tingakat haqq al yaqin, sufi disinari oleh zat Tuhan. Yang disebut tajalli al dzat. Dengan demikian, diri sufi srina ( fana’) dalam asam. Sifat-sifat, dzat Tuham. Pada tingkatan-tingkatan demikian kesasdaran sufi tenggalam di dalam kedasaran yang Mutlak.  Kemudian, pada martabat qurbah sufi telah merasa dirinya sangat dekat dengan Tuhan, berada di hadirat Tuhan, sehingga ia merasa seakan-akan pada dirinya terjelma al-haqq.[20]





































[1] Rivay Siregar, Tasawuf  dari Sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal 124
[2] Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, loc.it.
[3] Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, loc.it.
[4] Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili, AL Insan Kamil Fil Ma'rifah Al Awahir Wa Al Awa'il, di terjemahkan oleh Misbah El Majid dengan judul, Insan Kamil ikhatiar memahami kesejatian manusia dengan sang khaliq hingga akhir zaman, (Surabaya: Pustaka Hikamah Perdana, 2005), h. 15.
[5] Ibid, 16.
[6] Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, op.cit, h. 112
[7] Ibid, h. 113
[8] Ibid, h. 113
[9] Ibid, h. 122
[10] Ibid, h.128.
[11] Ibid, h. 129.
[12] Ibid, h. 135
[13] Ibid. h. 140
[14] Ibid, h. 141.
[15] Ibid, h. 142.
[16] Ibid, h. 143.
[17] Ibid, h. 147
[18] Ibid, h. 148
[19] Ibid, h.  154
[20] Ibid, h.  159

Hubungi Kami