Hakikat Manusia


Hakikat Manusia

Manusia merupakan binatang yang berpikir, begitu yang diistilahkan oleh ilmuan barat. Manusia kalo kita teliti dari aspek biologis tidak jauh beda dengan fungsi biologis bintang, lantas apa yang kemudian menjadi landasan bahwa manusia adalah makhluk yang lebih sempurna dibanding dengan makhluk yang lain?. Ilmuan muslim kemudian mencoba untuk mengkaji lebih intensif dan ekstensif tentang manusia dari aspek rohani yang kemudian membuahkan konsep-konsep rohani tentang manusia bahwa didalam diri manusia terdapat unsur-unsur yang dimana unsur-unsur tersebut mampu meletakkan posisi manusia sebagai makhluk sempurna. 


 Adapun unsur-unsur tersebut yaitu, akal, moral, mental, intlektual dan spiritual. Apabila manusia mampu memfungsikan secara optimal sejumlah unsur tersebut maka akan tercipta insan kamil. atas itu juga manusia dikatakan sebagai makhluk moral yang mempunyai kebebasan dalam memilih atau menentukan pilihan (baik dan buruk). 

Sifat hakikat manusia adalah ciri – ciri karakteristik yang membedakan manusia dengan hewan, meski dari segi biologis memiliki kemiripan. Misal dari bentuknya manusia dan orang utan sama –sama bertulang belakang, berjalan dengan dua kaki, melahirkan, menyusui anaknya dan pemakan segalanya. Disebut sifat hakikat manusia karena secara haqiqi sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan, Karena manusia mempunyai hati dan dua kekuatan. Pertama, kekuatan yang tampak seperti tangan, kaki, mata dan anggota tubuh lainnya yang tunduk kepada perintah hati, inilah yang disebut dengan pengetahuan. Kedua, kekuatan yang mempunyai dasar yang mendalam seperti otak dan syaraf inilah yang disebut dengan kemauan. Pengetahuan dan kemauan inilah yang membedakan manusia dengan hewan

Dalam wacana taqdir misalnya, Dalam perspektif Prof. Mulyadhi, takdir dalam bahasa Arab artinya “takaran” atau “ukuran”. Kalau dikatakan bahwa apapun yang terjadi di alam sesuai dengan takdir, itu berarti bahwa alam berjalan sesuai dengan “ukuran”, “takaran”, atau “rule” tertentu yang tidak berubah. Sebagai makhluk fisik, manusia harus tunduk kepada takdir fisiknya. Namun, sebagai makhluk spiritual, ia memiliki takdir atau takarannya sendiri yang mungkin berbeda dengan takdir fisik (Lentera Kehidupan, hlm: 196).

Dalam wacana taqdir Prof. Mulyadi mengeksplorasi pandangan Jalaluddin Rumi yaitu Takdir yang mengatur kehidupan spiritual dan moral manusia oleh Maulana Rumi disebut “hukum kehidupan”. “Takdir”, katanya, “semacam hukum kehidupan, dan hukum kehidupan mengatakan, ‘Kalau Anda mencuri, maka Anda dan masyarakat Anda akan mendapat konsekuensinya, dan kalau Anda berbuat baik, maka Anda akan menerima konsekuensi tertentu juga’. Rumus takdir sebagai hukum kehidupan adalah bahwa apapun yang kita lakukan akan mendatangkan akibat atau konsekuensi yang sepadan dengannya”, karena setiap perbuatan memiliki konsekuensinya sendiri (Lentera Kehidupan, hlm: 196).


Dalam diri manusia mempunyai dua sifat yaitu, sifat hewani dan sifat malaikat.  Jelas bahwa kebaikan manusia yang ideal tidak terletak pada prilaku yang tumbuh dari sifat hewaninya, namun kebaikan ideal itu ada pada karakter malaikat atau yang sesuai dengan kemuliyaan manusia sebagai makhluk yang berpikir dan berkehendak yang tidak dibatasi oleh hukum-hukum alam inderawi.
Secara biologis manusia hampirr tidak memliki perbedaan dengan binatang, akan tetapi yang membedakan manusia dengan hewan adalah, manusia merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki etika
 
para ahli dan ilmu filsafat mengkelompokkan manusia dengan lainnya sesuai kemampuan yang dimilikinya. Yang terdiri dari :

1.      Manusia adalah Homo Sapien, artinya manusia yang memiliki akal budi
2.      Manusia adalah Animal Rational, artinya binatang yang berpikir
3.       Manusia adalah Homo Laquen, artinya mahkluk yang pandai menciptakan bahasa dan menjelmakan pikiran manusia lewat suatu kata – kata yang tersusun
4.      Manusia adalah Homo Faber, artinya Mahkluk yang terampil yang dapat membuat sebuah perkakas
5.      Manusia adalah Zoon Politicon,artinya mahkluk yang pandai bergaul, bekerjasama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
6.      Manusia adalah Homo Economicus, artinya mahkluk yang tunduk pada prinsip – prinsip ekonomi dan bersifat ekonomis
7.       Manusia adalah Homo Religious, artinya mahkluk yang beragama






Hubungi Kami