Hadits Qudsi


Hadits Qudsi 

 

Secara etimologi kata Qudsiy merupakan bentuk nisbah dari kata Quds yang mempunyai arti bersih atau suci. Jikalau Quds berarti Suci, maka ketika mendapat rangkaian huruf ya’ nisbah menjadi berarti: yang berhubungan dengan hal yang suci atau disucikan.
قدس –> قدسي= قدسيّة
Hadits Qudsi merupakan varian lain dari hadits yang berasal dari Nabi saw. Secara terminologis, pengertian hadits qudsi yang telah disepakati Muhadditsin adalah bahwa Hadits Qudsi merupakan setiap hal yang diriwayatkan oleh Nabi saw dari Tuhan Yang Maha Agung. Demikian yang diungkap dalam Syarh Arba’in Nawawi.
والحديث القدسي: كل ما رواه النبي صلى الله عليه وسلم عن ربه عزّ وجل
Akan tetapi terdapat perbedaan di kalangan Muhadditsin terkait lafadz (redaksi) Hadits Qudsi. Perbedaan tersebut berangkat dari pertanyaan mendasar: ”apakah hadits qudsi itu kalam Allah –dalam arti makna dan lafadznya dari Allah sebagaimana Al-Qur’an- ataukah makna (substansi) tersebut diwahyukan oleh Allah, kemudian Nabi saw sendiri yang memformulasikan redaksinya?  Menanggapi pertanyaan ini, para Ulama’ (semoga Allah merahmati mereka) berbeda pendapat. 

Pendapat pertama mengatakan bahwa seluruh komponen dalam hadits qudsi yang meliputi makna dan lafadz berasal dari Allah SWT. Karena pada kenyataannya, Nabi saw meriwayatkan hadits tersebut dengan menyandarkannya kepada Allah SWT seperti sabda beliau إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ. Ini menunjukkan bahwa lafadz maupun makna Hadits tersebut dari Allah SWT. Apalagi pada kenyataannya Nabi saw adalah manusia yang paling dapat dipercaya dan kuat riwayatnya. Tidak mungkin beliau mengungkapkan itu dengan tanpa arti dan maksud. 

Pendapat kedua seakan memberikan bantahan terhadap pendapat yang pertama. Para Ulama’ ini menyatakan bahwa lafadz hadits qudsi merupakan lafadz Nabi saw, sedangkan maknanya dari Allah SWT. Hal ini dikarenakan oleh beberapa alasan, yakni:

* Jikalau hadits Qudsi dikatakan bahwa lafadz dan maknanya dari Allah SWT, maka berarti hadits Qudsi memiliki mata rantai sanad yang lebih tinggi dari Al-Qur’an. Karena semua tahu bahwa hadits Qudsi diriwayatkan Nabi saw dari Allah SWT dengan tanpa perantara Malaikat Jibril. Sementara Al-Qur’an disampaikan kepada Nabi saw melalui malaikat Jibril.
* Jikalau hadits Qudsi dikatakan bahwa lafadz dan maknanya dari Allah SWT, maka akan tidak ada bedanya antara hadits Qudsi dan Al-Qur-an yang sama-sama Kalam Allah. Padahal Al-Qur’an telah memiliki kekhususan dan keistimewaan seperti: bernilai ibadah bagi yang membacanya, harus suci sebelum menyentuhnya, terjaga dari campur tangan manusia dan lain sebagainya.

Menanggapi hal ini, maka yang diunggulkan adalah pendapat yang kedua yakni bahwa lafadz hadits Qudsi merupakan lafadz Nabi saw sementara maknanya berasal dari Allah SWT.
Contoh Hadis Qudsi misalnya:
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِى سِنَانٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ وَأَبِى سَعِيدٍ - رضى الله عنهما - قَالاَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ إِنَّ الصَّوْمَ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِنَّ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَيْنِ إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِىَ اللَّهَ فَرِحَ. وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ». )رواه مسلم(

“Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, ”Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Puasa itu untukku, dan Aku yang akan memberikan ganjarannya, disebabkan seseorang menahan syahwatnya dan makannya serta minumnya karena-Ku, dan puasa itu adalah perisai, dan bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan, yaitu kebahagian saat berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya, dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah, daripada bau minya misk/kesturi”

Hubungi Kami