Filsafat Islam



         Falsafah Islam merupakan gabungan dari falsafah dan Islam. Kata Islam berasal dari bahasa Arab salima yang kemudian dibentuk menjadi aslama.  Dengan demikian, Islam merupakan bentuk isim mashdar yang berarti berserah diri, selamat atau memelihara diri dalam keadaan selamat.[1] Untuk mengetahui lebih jelas tentang pengertian falsafah Islam, maka pemakalah akan mengemukakan pendapat para tokoh yang menjelaskan definisi itu yaitu:
a)      Dr. Ibrahim Madzkur mengatakan bahwa falsafah Islam mencakup seluruh studi filosofis yang ditulis dibumi Islam.
b)      Drs. H. A. Musthofa menyatakan falsafah Islam adalah suatu ilmu yang dicelup ajaran membahas hakikat kebenaran segala sesuatu.
c)      Menurut Musthofa Abdur Roziq mengemukakan bahwa falsafah Islam adalah  falsafah yang tumbuh di negeri Islam dan di bawah naungan negara Islam tanpa memandang agama dan bahasa pemiliknya.
d)     Ahmad Fuad al-Ahwani, falsafah Islam adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran Islam.
Dari definisi yang dikemukakan para tokoh di atas, maka pemakalah mengambil kesimpulan bahwa Falsafah Islam adalah cara berpikir untuk mencari kebenaran yang sedalam- dalamnya tentang hakikat sesuatu yang berasal dari prinsip- prinsip Islam[2].

2. Seajarah Singkat Timbulnya Falsafah Islam
        Sejarah falsafah bermula di pesisir Samudra Mediterania bagian Timur pada abad ke-6 SM. Sejak semula falsafah ditandai dengan rencana umat manusia untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia, dan Tuhan. Itulah sebanya falsafah pada gilirannya mampu melahirkan sains-sains besar, seperti fisika, etika, matematika dan metafisika yang menjadi batu bata kebudayaan dunia[3].

     Cara pemikiran Falsafah secara teknis muncul pada masa permulaan jayanya Dinasti Abbasiyah. Di bawah pemerintahan Harun al-Rasyid, dimulailah penterjemahan buku-buku bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Orang-orang banyak dikirim ke kerajaan Romawi di Eropa untuk membeli manuskrip. Awalnya yang dipentingkan adalah pengetahuan tentang kedokteran, tetapi kemudian juga pengetahuan-pengatahuan lain termasuk falsafah[4].
     Penterjemahan ini sebagian besar dari karangan Aristoteles, Plato, serta karangan mengenai Neoplatonisme, karangan Galen[5], serta karangan mengenai ilmu kedokteran lainya, yang juga mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya yang dapat dibaca alim ulama Islam. Tak lama kemudian timbulah para failasuf dan ahli ilmu pengetahuan terutama kedokteran di kalam umat Islam.
           Ketika falsafah bersentuhan dengan Islam maka yang terjadi bahwa falsafah terinspirasi oleh pokok-pokok persoalan yang bermuara pada sumber-sumber Wahyu Islam. Semua failasuf muslim seperti al Kindi, al Farabi, Ibn Sina, Mulla Sadra,Suhrawardi dan lain sebagainya hidup dan bernafas dalam realitas al Quran dan Sunnah. Kehadiran al Quran dan Sunnah telah mengubah pola berfalsafah dalam konteks Dunia Islam. Realitas dan proses penyampaian al Quran merupakan perhatian utama para pemikir Islam dalam melakukan kegiatan berfalsafah[6].

3.   Nama-Nama Tokoh Para Failasuf Islam
Ø  Al-Kindi
Ø  Al-Farabi
Ø  Ikhwan Al-Shafa’
Ø  Ibnu Rusyd
Ø  Ibnu Maskawih
Ø  Suhrowardi Al-Maqtul
Ø  Ibnu Sina
Ø  Al-Ghazali
Ø  Ibnu Thufail
Ø  Ibnu ‘Arabi
Ø  Mulla Shadra
Ø  Muhammad Iqbal

4.      Syarat-Syarat Menjadi Failasuf Islam
               berbicara kriteria-kriteria yang harus dimiliki seorang failasuf tentu kita akan berpandangan tajam bahwa seorang yang ingin menjadi pemikir handal dan radikal atau failasuf jika kita memanggilnya demikian tentu kita haruslah mengedepankan atau meninggikan sifat rasionalitas kita. dan seperti yang diketahui bahwa rasionalitas kita gambarkan sebagai sebuah akal yang merupaka anugrah dari allah kepada manusia yang paling penting, karna perbedaan manusia dengan hewan terletak pada akalnya, oleh karena itu manusia dijuluki pula sebagai al-hayawan al-natiq (hewan yang berfikir). Bukan berarti manusia itu berbentuk seperti hewan akan tetapi kalimat tadi menunjukan metaforis dari manusia, maka tidak diherankan apabila manusia yang di anugrahi akal tidak menggunakan akalnya sebagaimana manusia ia hanya menggunakan insting, firasat, dan hawa nafsu sebagai suatu landasan hidup maka dialah manusia yang bernaluri  hewan dalam suatu sistim kehidupanya[7]. Sudah sifat bagi akal manusia yang selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu termasuk yang menciptakanya dan dirinya sendiri.

               Ketidak puasan akan memandang hanya dari satu sudut perspektif saja dari suatu bidang keilmuan adalah hal yang amat penting bagi seorang failasuf, keradikalan, silogisme, dan kesistematisan adalah suatu karakter yang harus dimiliki oleh sorang failasuf. Sudah pasti karakteristik seperti itu di dalam ruang lingkup mayoritas para ahli agama yang ortodoks dan tradisional tidak di anjurkan, tapi jika kita lihat lagi apabila agama tidak di dominasi oleh pemikiran-pemikiran filosofis maka tidak menutup kemungkinan agama itu akan tinggal formalitasnya saja[8]. seperti gagasan-gagasan kemodernan yang bersifat filosofis yang dikemukakan oleh Muhammad abduh beserta para murid-muridnya yang telah memajukan negaranya yang berbekgroun islam yaitu mesir pada saat itu, selanjutnya ada Mustafa kemmal di turki, sultan Mahmud ll di turki, harun nasution dan nurcholis madjid di Indonesia, dan masih banyak lagi para pembaru-pembaru yang mengedepankan rasionalitasnya. Karna berkat sumbangan rasio itulah sesuatu yang memang dianggap mistik yang tak berlandasan agama atau kitab suci bisa terkuak secara esensial[9].
     Seorang mufti (pemberi Fatwa) tentulah orang yang mempunyai wawasan keilmuan yang luas, agar yang difatwakannya tentang suatu masalah hukum sesuai dengan yang sebenarnya. Abu Ishaq Ibrahim  menguraikan secara detail tentang syarat-syarat seorang mufti, yang dapat disimpulkan sebagai berikut[10]:
a)      Harus Mengetahui sumber hukum,  yaitu al-Qur’an dan sunah, baik qauliyah, fi’liyah dan taqririyah.
b)      Mengetahui cara mengambil hukum dari keduanya.
c)      Mengetahui kaidah-kaidah ushul fiqh
d)     Mengetahui bahasa Arab dan tata bahasa Arab;
e)      Mengetahui nasakh, mansukh, dan hukum-hukumnya;
f)       Mengetahui ijma’  dan khilafiyah ulama terdahulu
g)      Mengetahui cara mengqiyas dan hukum-hukumya
h)       Mengetahui ijtihad
i)        Mengetahui cara mengambil ‘illat dan urutan dalil-dalil
j)        Mengetahui cara mentarjih
k)      Harus orang yang dipercaya dan jujur
l)        Orang yang tidak menganggap enteng dalam soal agama.
         Lebih lanjut, Seorang failasuf tidak hanya taqlid atau mengikuti doktrin-doktrin dogmatis serta tidak mengadopsi teori dari failasuf-failasuf terdahulu, akan tetapi selain mengambil kosep dari failasuf-failasuf  terdahulu ia juga harus memelopori teori-teori baru tersendiri dari logika kita berdasarkan teori dari failasuf terdahulu itu.

           Katakanlah ibnu sina atau avicena kalau untuk sebutan orang-orang barat yang sebagian banyak pemikiran falsafahnya dipengaruhi oleh failasuf dari yunani, yaitu aristotelas, akan tetapi ibnu sina sendiri tidak hanya mengadopsi semua pemikiran aristoteles dan mengaplikasikanya kepada pemikiran falsafahnya, ibnu sina pun secara keras mengkritiknya, dan banyak lagi para failasuf baik islam yang terpengaruh oleh pemikiran failasuf barat dan barat yang terpengaruh pemikiran failasuf islam dan tidak hanya mengadopsinya saja[11].

            ciri khas dari pada berfikir yang filosofis adalah :

a)      Radikal, berasal dari kata "Radix" berarti akar, berfikir radikal berfikir sampai konsekwensinya yang terakhir.
b)      Sistematis, yaitu berfikiran logis bergerak selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang paling berhubungan antara satu dengan yang lain secara teratur. Atau dengan kata lain sistimatis dapat dijelaskan sebagai berikut : "Seorang pelajar filsafat dalam menghadapi filsafat mesti bermula dari perjalanan menghadapi teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat, setelah itu ia mempelajari teori hakekat yang meruakan cabang lain. Kemudian ia mempelajari teori nilai atau filsafat nilai.
c)      Universal, yaitu berfikir secara umum dan tidak secara tetrtentu (khusus) atau tidak terbatas pada bagian tertentu kebenarannya. Maksudnya kebenaran yang diperoleh ilmu pengetahuan lewat penyelidikan misalnya bukan bersifat universal, akan tetapi keuniversalan filsafat adalah kebenaran bersifat umum yang memenuhi metode filsafat.
d)     Logis, artinya segala kebenaran yang diperoleh dari perenungan yang mendalam mesti masuk akal, atau kebenaran yang bersifat masuk akal, atau fikiran yang dinyatakan dengan bahasa.





[1] Harun Nasution, Filsafat Agama,  (Jakarta: Bulan Bintang1987: Bulan Bintang, 1987), hlm 73
[2] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm 54
[3] Zaprulkhan. Filsafat Islam SebuahKajianTemati,. (Jakarta 2014: PT.RAJAGRAFINDO PERSADA), hlm 102
[4] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm 85
[5] Imam Al-ghazali, Tahafut Al-falasifah, (Bandung: MARJA 2010), hlm 21
[6] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam filosof dan filsafatnya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), hlm 101
[7] Hasan Basri & Zaenal Mufti, Filsafat Islam sejak Klasik hingga Modern, (Bandung: C.V. Insan Mandiri, 2008), hlm 85
[8] Hasan Basri & Zaenal Mufti, Filsafat Islam sejak Klasik hingga Modern, (Bandung: C.V. Insan Mandiri, 2008), hlm 52
[9] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm 120
[10] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm 100
[11] Hasan Basri & Zaenal Mufti, Filsafat Islam sejak Klasik hingga Modern, (Bandung: C.V. Insan Mandiri, 2008), hlm 86


Hubungi Kami