Etika Lingkungan



Etika adalah prilaku serta aturan hidup yang membantu seseorang dalam menjadikan dirinya sebagai orang yang berakhlak. Adapun definisi dari orang yang beradab adalah bermanfaat bagi sesamanya dan bisa melestarikan alam disekelilingnya. Cara orang melestarikan alam dan menjaganya termasuk dalam etika lingkungan. Etika merupakan cerminan hidup atau tingkah laku seseorang dalam kesehariannya, didalam etika mempelajari dampak hubungan moral manusia terhadap segala apa yang ada dalam lingkungannya.

Pada tahun 1970-an, para filsuf mulai memformulasikan sebuah bidang baru yang sangat penting yakni tentang etiak lingkungan yang membahas tentang hubungan antara manusia dan alam atau lingkungannya, hal ini berbeda dengan etika tradisional, yang hanya membahas tentang hubungan antar sesame manusia saja.

Alam dapat dilihat begitu indah dan harmonis ketika bisa memberikan manfaat untuk kehidupan manusia, dan saat ini, alam terancam akan terjadi kerusakan karena disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang tidak mempunyai etika lingkungan. Teknologi begitu banyak membantu manusia untuk lebih mudah dalam menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih maju dan tentu hal itu tidak lepas dari intervensi alam, misalnya hujan, planet tata surya dll.

Perubahan prilaku manusia berdasarkan etika lingkungan hidup yang baik sangatlah  diperlukan karena hubungan antara manusia dan alam merupakan hubungan yang tanpa subordinat. Seiring pertumbuhan populasi manusia yang begitu tinggi di Indonesia khususnya, pemakaian teknologi sangat menekan kapasitas bumi, dalam hal ini manusia harus peka dan secepatnya untuk segera bertindak melakukan perawatan lingkungan  bagi berlangsung nya kehidupan manusia dalam penggunaan teknologi. Satu hal penting yang harus diperhatikan oleh manusia adalah peng eksploitasian lingkungan secara berlebihan.

Menurut Blackstone (1974), penyebab utama rusaknya lingkungan adalah sikap yang tidak baik bagi alam, misalnya buang sampai sembarangan, penebangan hutan, pengeboran minyak secara berlebihan dll, dan mempunyai komitmen bahwa manusia tidak berkewajiban dan bertanggung jawab dalam melestarikanlingkungan.
           
            Kebutuhan akan Etika Lingkungan yang telah muncul sebagai akibat dari tiga faktor berikut :

1.      Efek baru alam
Peradaban teknologi modern telah sangat mempengaruhi alam, Oleh karena itu, kita harus menganalisis konsekuensi etis tindakan manusia.

2.      Pengetahuan baru tentang Alam
Sampai beberapa dekade yang lalu, hanya sebagian kecil orang yang menyadari bahwa aktivitas manusia dapat mengubah lingkungan global. Kini, sains modern menunjukkan bagaimana manusia telah berubah dan mengubah lingkungan global dengan cara yang sebelumnya tidak mereka pakai.

3.      Memperluas Kekhawatiran Moral
Mungkin pertanyaan yang paling penting dalam etika lingkungan adalah apakah perluasan moral mencakup non-manusia.

Pemanasan Global adalah perhatian nomor satu yang mengancam eksistensi manusia dan segala sesuatu di dalam lingkungan saat ini. Umat manusia harus disalahkan atas kehancuran dunia alami. Isu lingkungan yang mengancam kehidupan manusia dan non-manusia saat ini, dimulai dari revolusi industri dan penemuan minyak. Kebutuhan untuk meningkatkan kualitas hidup mengakibatkan pembangunan pabrik untuk memproduksi produk secara massal bagi konsumen. Pabrik-pabrik ini didukung oleh bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas. Pembakaran bahan bakar fosil ini menghasilkan polutan dalam jumlah besar yang tetap berada di atmosfer Bumi sampai hari ini dan merupakan penyebab utama pemanasan global. Namun, dalam etika seseorang tidak bisa mengevaluasi hanya satu hal. Dalam etika, seperti di alam, semuanya terhubung dengan segala sesuatu yang lain.
           
Epistemologi moral" saya didasarkan pada sila ketiga, sebagian diperoleh dari sudut pandang ekologis: (c) tanggung jawab manusia terhadap alam dan ke masa depan harus dilihat dan diartikulasikan secara holistik dan sistemik. Etika lingkungan yang dapat dipertahankan tidak dapat diturunkan dari sekadar agregasi dan penjumlahan preferensi "manusia" manusia atau hewan, atau bahkan hak. Sebagai gantinya, "keseluruhan menginformasikan bagian-bagiannya." Dengan demikian, sama seperti kebajikan moral dan tanggung jawab tidak dapat dinilai selain dari komunitas dimana agen tersebut merupakan bagian, tanggung jawab manusia terhadap alam harus dilihat dari "sudut pandang ekologis." Dalam pandangan terpanjang dan maksimal, tidak ada "kepentingan manusia" berkelanjutan selain kesehatan ekosistem. Alam tidak hanya menopang kita secara fisik, tapi demi kesehatan emosional kita (dan juga kelangsungan hidup fisik kita), kita membutuhkan lingkungan alami yang "memilih" gen kita. Seperti yang dikatakan oleh Paul Shepard, "penghancuran alam adalah amputasi manusia.

Dari filsafat moral tradisional Barat, kita telah memperoleh seikat aset dan kewajiban saat kita berusaha membangun etika lingkungan yang sesuai dengan kondisi dan pengetahuan kita saat ini. Salah satu tugas paling menakutkan dari filsuf kontemporer adalah mengidentifikasi dan memisahkan aset dari kewajiban.










Hubungi Kami