Apa Itu Makhluk Jin



Jin secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi “tersembunyi” atau “tidak terlihat”. Dalam Islam dan mitologi Arab pra-Islam, jin adalah salah satu ras mahluk yang tidak terlihat dan diciptakan dari api.
Menurut Ibnu Aqil sebagaimana dikutip asy-Syibli dalam bukunya Akam al-Marjan fi Ahkam al-Jann, mengatakan bahwa makhluk ini disebut dengan jin karena secara bahasa jin artinya yang tersembunyi, terhalang, tertutup. Disebut jin, karena makhluk ini terhalang (tidak dapat dilihat) dengan kasat mata manusia.
Dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menceritakan tentang Jin. Diantaranya:
1. Surah Al-Hijr ayat 26 – 27:
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat yang kering kerontang yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan Kami telah ciptakan Jin sebelum di ciptakan manusia dari api yang sangat panas.”
2. Surah Ar-Rahman ayat 15:
Artinya: “Dia (Allah) menciptakan Jann (Jin) dari nyala api (Pucuk api yang menyala-nyala atau Maarij)”
3. Surah Al-‘Araf ayat 12:
Artinya: “Engkau ciptakan aku (kata Iblis) dari api sedangkan ciptakan dia (Adam) dari tanah.”
4. Dari Hadis Nabi saw yang telah diriwayatkan oleh Muslim ra:
“Malaikat diciptakan dari cahaya, Jaan diciptakan dari lidah api sedangkan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan kepada kamu (tanah).”
5. Al-A’raf Ayat 72:
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”

Asal Mula Penciptaan Jin
-Qs Al-Hijr : 26 – 27 :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”
– Qs Al-Baqarah ayat 30 :
Yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
– Qs Ar-Rahman ayat 15 :
Yang artinya : “dan Dia menciptakan jin dari nyala api.”
A.      Tafsir Mufradat
الْجَانَّ : sejenis jin
مَارِجٍ : kobaran mulus yang tidak bercampur dengan asap
B.       Asbabun Nuzul
Berdasarkan penelusuran yang telah kami lakukan, kami tidak menemukan asbabun nuzul surat tersebut.
C. Tafsir Ayat
Dan allah SWT, bahwasanya allah telah menciptakan jin dan api yang jernih, yang sebenarnya bercampur dengan sebagian yang lain. Yakni dari kobaran api yang kuning dengan kobaran api yang merah, dengan kobaran api yang kehijau-hijauan.
Jadi, sama seperti halnya dengan manusia juga diciptakan dari unsur-unsur yang bermacam-macam, begitu pula dengan jin, diciptakan dari bermacam-macam kobaran api yang bercampur menjadi satu.
Maarij yaitu nyala api yang sangat besar dan sangat panas atau “Al-Lahab” yaitu lidah api yang bercampur menjadi satu yaitu merah, hitam, kuning dan biru. Beberapa ulama juga mengatakan bahwa “Al-Maarij” itu adalah api yang sangat terang yang memiliki suhu yang sangat tinggi sehingga bercampur antara merah, hitam, kuning dan biru.
Beberapa pendapat mengatakan Al-Maarij itu ialah api yang bercampur warnanya dan sama artinya dengan “As-Samuun” yaitu api yang tidak berasap tetapi suhu panasnya sangat tinggi. Angin Samuun yang telah tercampur dengan Al-Maarij itulah yang dijadikan Allah untuk menciptakan Jaan/Jin.
Menurut suatu Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud juga menyatakan bahwa angin Samuun yang dijadikan Jaan itu hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian angin Samuun yang sangat panas.
Dari api yang sangat panas inilah Allah telah menciptakan Jin, yaitu dari sel atau atom atau dari nukleas-nukleas api. Kemudian Allah masukkan roh atau nyawa padanya, maka jadilah ia hidup seperti yang diinginkan oleh Allah. Jin juga di beri izin oleh Allah Merubah diri kebentuk yang disukai dan dikehendakinya kecuali bentuk rupa Rasulullah SAW.
Jin juga diperintahkan oleh Allah menerima syariat Islam sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada manusia. Bentuk asal Jin setelah diciptakan dan ditiupkan roh itu hanya Allah dan Rasulnya saja yang mengetahuinya. Menurut beberapa ulama rupa, tabiat, kelakuan dan perangai Jin adalah 90 persen mirip ke manusia.
Asal kejadian manusia adalah campuran dari Massa Kathif yaitu tanah dan air, Massa Syafaf yaitu campuran api dan angin dan Nurani, yaitu roh, akal, nafsu dan hati yang dinamakan “Latifatur-Rabbaniah” sesuai dengan manusia sebagai sebaik-baik kejadian yang diciptakan Allah dan sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini. Sedangkan kejadian Jin pula ialah campuran Massa Syafaf yaitu campuran api dan angin dan Nurani iaitu roh, akal, nafsu dan hati yang sesuai dan cocok dengan kejadian Jin.
Sedangkan mahkluk-makluk lain pula Allah jadikan dari salah satu unsur tersebut, misalnya, binatang yang dijadikan dari campuran Massa Ksayif dan Massa Syafaf saja. Batu dan tumbuh-tumbuhan pula dijadikan dari Massa Kasyif semata-mata. Sedangkan Malaikat pula dijadikan dari Nurani semata-mata.
Sedangakan menurut Fazlur Rahman kalau syetan itu lebih kepada sifat (Syarr) sedangkan kalau iblis itu adalah zat nya (wujudnya).[1] Sedankan manusia itu adalah ciptaan Allah. Ia diciptakan secara almiah kaena tuhan menciptakan adam dari tanah  yang di dukung didalam ayat al-Qur’an (15:26,28; 6:2; 7:12; dan ayat-ayat lainnya) yang, jika diorganisir ke dalam diri manusia akan menghasilkan ekstrak sulala (air mani).[2] Sedankan jin itu adalah semacam makhluk yang kurang lebih sejajar dengan manusia, kecuali bahwa bahwa jin diciptakan dari api sedangkan manusia dari tanah, di dukung oleh al-qur’an (7:12,55:14-15). Al-qur’an juga menyatakan (18:50) bahwa iblis adalah jin dan ia mengingkari tuhannya. [3]C. Iblis
Perlakuan iblis dalam teks alquran merupakan ruang lingkup yang agak terbatas sebagaimana yang terlihat. Sejumlah keterangan telah diberikan tentang akar dari motif iblis dengan menekankan kaitannya dengan naskah-naskah sebelum islam maupun dengan konsep-konsep agama. Meskipun demikian, sangat penting untuk meggali corak-corak lain dari literatur agama islam untuk menyempurnakan batas-batas umum dari biografi mitos tentang Iblis.
Hanya dengan memahami peranannya dalam kerangka umum kehidupan islam, seseorang dapat memahami kreatifitas yang dengannya para sufi telah mencetak simbologi tertentu tentang iblis.
Tiga literature utama yang akan dipertimbangkan adalah tafsir alquran, kumpulan cerita nabi, dan hadits. Tujuan pengamatan tafsir-tafsir dan cerita-cerita kenabian adalah untuk menggali unsure-unsur utama dari mitos iblis sebagaimana hal ini dikembangkan, dianalisis, dan digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran oleh ahli-ahli agama islam.tafsir dan kumpulan cerita-cerita kenabian membicarakan rentangan suatu periode yang berkisar dari abad kesembilan sampai abad keenam belas. Tujuannya bukanlah untuk menyajikan suatu perkembangan kronologis dari mitos melainkan untuk mengelola unsur-unsur dasar yang menjadi bagian dari biografi mitos iblis yang mengulas masalah-masalah teologi utama yang direfleksikan dari pembahasan figure iblis.
Nama setan para penafsir menjelaskan, tidaklah selalu iblis;sepanjang zaman dari masa-masa mitos yang sedemikian panjang, sebelum ia melakukan dosanya, iblis disebut ‘Azazil, dan kadang-kadang disebut Harits.
Iblis adalah makhluk durhaka yang jenisnya adalah daripada kalangan jin, bukan jenis manusia. Al-Quran Al-Kariem secara tegas menyebutkan bahwa Iblis itu adalah dari jenis jin.
Firman Allah S.W.T. dalam Surah al-Kahf ayat 50 yang maksudnya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam , maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim.”
Jadi boleh dikatakan bahwa Iblis itu adalah makhluk yang sebangsa dengan jin. Dialah dahulu jin yang paling dekat dengan Allah S.W.T, lalu berubah menjadi ingkar lantaran tidak mau diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s. iaitu manusia pertama.
Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat maksudnya : “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (Surah al-Baqarah ayat 34)
Motivasi yang menghalangi Iblis itu untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah rasa kesombongan dan tinggi diri. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari Adam.
Allah berfirman dalam Surah al-A’raf ayat 12 maksudnya : “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?” Jawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya : Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.
Ciri yang paling utama dari Iblis adalah dia tidak mati-mati sampai hari kiamat. Dan penangguhan usianya itu memang telah diberikan oleh Allah S.W.T seperti yang tertera didalam Surah al-A’raf ayat 14-15: “Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan’. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”
“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya “. (Surah Shaad ayat 79-81 )
Jadi Iblis adalah nama seorang jin yang hidup di masa penciptaan Adam a.s (nama asalnya Azazil dan dipanggil Iblis apabila dia enggan sujud kepada Nabi Adam a.s.)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dikisahkan bahwa Azazil adalah nama awal Iblis makhluk yang awal mula menjadikan Adam dan Hawa tergelincir dari jalannya (Kisah tergelincirnya Adam dan Hawa muncul dalam kitab Al Quran, Taurat dan Injil)
Azazil dikisahkan sebagai makhluk Allah yang paling banyak ibadah serta paling luas pengetahuannya, tafsir at-Tabari juga menyatakan hal yang sama yakni Azazil adalah makhluk yang paling rajin dan berdedikasi, suatu wujud yang dikenal karena pandangan dan pengajarannya. Ibadah dan pengetahuannya mengalahkan makhluk lainnya termasuk malaikat.
Hanya saja dalam melaksanakan ibadahnya, Azazil tidak memiliki kesadaran bahwa Allahlah yang memberi kekuatan kepada seorang hamba untuk beribadah kepadaNya. Hal tersebut memunculkan rasa sombong dalam diri Azazil dan yang merasa paling berhak menduduki maqam tertinggi makhluk. Karena itu Azazil menjadi sombong dan menolak perintah Allah. Kesombongan yang muncul karena melihat penciptaan dari api itu lebih baik dan lebih mulia dari tanah liat (sebagai bahan dalam penciptaan Adam a.s).
Dan tatkala Allah menciptakan Adam dari segumpal tanah, lalu Allah memerintahkan seluruh makhluk untuk tunduk menghormati Adam, maka tunduklah segala makhluk menuruti perintah Allah kecuali Azazil. Azazil rasa maruahnya tercabar kerana dirinya yang dicipta dari api sangkaannya lebih mulia dari Adam yang dicipta dari tanah. Maka terhalaulah Azazil dari syurga. Namanya diubah kepada Iblis. Iblis berumur panjang dan dia tidak mati-mati sampai hari kiamat. Iblis adalah nenek moyang syaitan yang juga punya keturunan, namun keturunannya itu tidak mendapatkan jaminan untuk hidup sampai kiamat. Dan sebagai bangsa jin, ada diantara keturunannya itu yang mati. Barangkali usianya berbeza dengan rata-rata manusia. Tetapi tetap akan mati juga. Kecuali nenek moyang mereka iaitu Iblis.
Didalam Surah Al-Araaf ayat 13 Allah berfirman: “Turunlah engkau dari syurga itu (wahai Iblis), kerana engkau tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina.”
Iblis memohon kepada Allah S.W.T. supaya dipanjangkan umurnya sampai hari kiamat, ternyata Allah S.W.T. menerimanya permintaannya itu kerana ada hikmahnya. Iblis mula membuat strategi bagaimana caranya menjerumuskan Adam. Dia begitu benci dan dendam kepada Adam kerana dia merasa Adamlah yang menyebabkannya dibuang dari syurga. Adam juga yang menyebabkannya hina. Kononnya disebabkan Adam dia tidak mendapat nikmat lagi dan dijauhkan dari rahmat Allah S.W.T.
Karena geramnya melihat Adam, dia berjanji kepada Allah akan menggoda dan menyesatkan Adam bersama anak cucunya, sesuai dengan Firman Allah S.W.T dalam Surah Al-Araaf ayat 16-17 yang artinya “Iblis menjawab ‘Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakkan mereka bersyukur (taat)”
Iblis juga bisa menyerupai manusia ketika dia mendatangi kaum musyrikin dalam bentuk Suraqah bin Malik kala mereka hendak pergi menuju Peperangan Badar. Mereka dapat berubah-ubah dalam bentuk yang banyak, seperti anjing hitam atau juga kucing hitam. Kerana warna hitam itu lebih signifikan bagi kekuatan Iblis atau syaitan dan mempunyai kekuatan panas.
Menurut buku Asy-Syibli meriwayatkan sebuah riwayat dari Zaid bin Mujahid yang mengatakan bahawa, ” Iblis mempunyai lima anak, yang masing-masing diserahkan urusan-urusan tertentu. Kemudian dia memberi nama masing-masing anaknya : Tsabar, Dasim, Al-A’war, Maswath dan Zalnabur.
Berbeda dengan penafsiran oleh Maulana Muhammad Ali/MMA  (besok pagi saya post pendapat MMA)  saya punya konsep sendiri tentang Iblis yang lebih masuk akal, mudah untuk dipahami, ya paling tidak buat saya sendiri. Saya tidak tahu mengapa MMA tidak berusaha mencari arti dibalik  kisah (arti kiasan) dalam Alquran surat 7 dan 2 yang melibatkan antara lain Tuhan, Malaikat, dan Iblis yang dihadiri juga oleh Adam. Kisah dialog yang bagi saya terasa aneh sekiranya ini benar-benar terjadi. MMA nampaknya terjebak dalam permasalahan apakah Iblis merupakan Malaikat ataukah bukan?
Dalam Surat 2 dan 7 diceritakan tentang dialog yang melibatkan Tuhan, Malaikat, Iblis dan Adam. Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS 2:34) .
Allah berfirman “apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) waktu Aku menyuruhmu? Menjawab Iblis:”Saya lebih baik dari Adam, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia engkau ciptakan dari tanah.” (QS 7:12).
Saya tidak tahu pasti apa sih arti Adam ini dalam bahasa Arab atau bahasa Ibrani, tapi saya pernah menjumpai seseorang dalam suatu forum diskusi di situs killthedevilhill.com (Saya lupa url pastinya, karena sudah lama sekali, mungkin sekitar tahun 1998) pernah berpendapat bahwa kata Adam dalam Alkitab maksudnya adalah manusia (man). Menurut saya adalah lebih masuk akal menyebut Adam sebagai mahluk manusia ketimbang Adam sebagai seseorang / nama orang. Manusia (Adam) diceritakan dalam Alquran diciptakan Tuhan berasal dari dua unsur yaitu:
Unsur Tanah. Tentunya tanah disini dimaksudkan sebagai materi / benda, sesuatu yang dapat diukur, dilihat dan dipegang. Kita sebut saja unsur jasmani / unsur materi.
Unsur Roh. Suatu unsur yang kebalikan dari unsur jasmani. Roh  tidak dapat terlihat, diukur dan dipegang. Unsur ini kita sebut saja sebagai unsur rohani / unsur non materi.
Nah perpaduan jasmani dan rohani yang berbeda dimensi / zat ini dugaan saya menimbulkan adanya suatu ketidakharmonisan. Ya  ibarat mencampurkan antara air dan api. Jika airnya terlalu banyak api bisa mati, jika api terlalu banyak air bisa menguap. Dapat dikatakan juga percampuran roh dengan jasmani ini mengakibatkan hasrat (passion) dan / atau unsur akal budi manusia menjadi 2 (dua) sisi / sifat yang saling bertolak belakang, Sisi baik dan sisi jahat. Sisi baik kita sebut saja sifat malaikat (MMA menyatakannya sebagai yang mendorong ke arah hidup yang suci, higher life). Sementara sisi buruk, kita sebut sifat iblis, mendorong ke arah kesenangan dunia, kesenangan badani (MMA menyebutnya sebagai lower passion).
Keinginan / hasrat sisi buruk yang berlebihan  dapat mendorong manusia untuk makan berlebihan, menghambur-hamburkan uang, menyimpan harta sebanyak-banyaknya dengan cara apapun hingga cukup untuk tujuh keturunan, berhubungan sex secara bebas dengan siapa saja di mana bisa ditemui selama suka sama suka, mengoleksi mobil antik dan / atau barang antik sebanyak-banyaknya untuk dipajang demi kesenangan diri, atau hobi para para sultan di Baghdad tahun 1300-1500 an yang mempunyai harem (selir) hingga ratusan orang. Terlepas dari benar tidaknya, dalam Alkitab Nabi Sulaiman (Raja salomo) digambarkan beristri banyak.
Ia (Raja Salomo) mempunyai tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; istri-istrinya itu lebih menarik hatinya daripada Tuhan. (Kitab Raja-Raja Pertama 11:1-4).
Sementara adanya dominasi sifat malaikat yang berlebihan mendorong manusia menjauhi dunia karena menganggap harta / dunia laksana bangkai anjing sehingga munculah kisah para sufi yang tenggelam dalam ibadah relijus yang berlebihan melupakan kehidupan dunia, melupakan tugas manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana tersirat dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Lainnya menganggap hubungan seks sebagai perwujudan kodrat hewani sehingga (dugaan saya) munculah kaum hawariyyun (murid-murid Nabi Isa) yang memilih membujang seumur hidup, bahkan di masa Nabi Muhammad ada sekelompok sahabat yang masing-masing bersumpah satu sama lain, antara lain ada yang bersumpah tidak akan menikah dan ada yang bersumpah akan puasa terus menerus .

Catatan  Kabarnya beberapa ulama besar juga hidup membujang sampai akhir hayat, seperti Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah dan Sayyid Quthub. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah (dalam M. Anis Matta, Gairah yang Membuat Tenang, Tarbawi, Edisi 52 Th. 2003 hal. 64) menyatakan “mereka mempunyai ambisi besar kepada ilmu pengetahuan tapi juga memiliki syahwat yang kecil. Sebab kalau syahwat mereka besar, tentulah kesibukan tidak akan menghalangi mereka menikah”. Sebenarnya menurut saya bukan masalah syahwat. Sebagaimana yang pernah terjadi ke diri saya yaitu gara-gara membaca Ihya Ulummudin karya Imam Ghazali dan kumpulan Nasihat Nabi Muhammad ke Abu Dzar tanpa bimbingan, ketika itu saya menenggelamkan diri dalam ibadah sholat dan puasa (termasuk yang sunah) yang berlebihan. Saya merasa asing dengan dunia sekitar, merasa takut berbuat dosa dan ingin meninggalkan dunia ini dan bersatu dengan sang pencipta. Saya juga menganggap hubungan sex sebagai suatu “perbuatan yang rendah”, perbuatan hewani. Ketika itu saya berumur 21 tahun. Ya barangkali saja itu yang terjadi juga kepada ulama diatas. Ini hanya dugaan saya saja, bukan maksud saya menyejajarkan diri saya yang labil (soalnya masih bujangan nih) ini dengan para ulama zuhud diatas.
Sebagai mahluk yang berjazad, kita manusia suka tidak suka ditakdirkan punya kemampuan untuk makan minum, melakukan hubugan seks seperti juga kemampuan yang dimiliki hewan. Nah sisi baik dalam diri kita kadang melupakan kodrat ini sehingga menganggap keinginan diatas sebagai keinginan yang rendah sebagaimana binatang yang kita anggap tidak berakal. Jika kita bisa menerima takdir kita, sebagai mahluk berjasad maka sekiranya kita melakukan makan, minum dan hubungan seks secara sah  akan lah terasa menyenangkan, membahagiakan.
Dan aku tidak membebaskan diriku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang (Alquran 12:53).
Sejalan dengan hal ini ada hadits yang menceritakan pernyataan Nabi bahwa melakukan hubungan suami istri pun dapat pahala. Ketika para sahabat bingung dan bertanya “kok bisa-bisanya hubungan suami istri dapat pahala?” Nabi balik bertanya bukankah kalau kalian berzina, maka  kalian mendapat hukuman dan dosa? Jadi sebaliknya, kalau kalian melakukanya secara sah berarti dapat pahala bukan?
Kembali ke pokok masalah, Ketika manusia mendapatkan perintah Tuhan maka sisi baik akan menjawab samina wa athona (kami mendengar dan kami taat) sedangkan sisi buruk akan menjawab samina wa ashoina (kami mendengar dan kami menolak untuk taat). Seseorang sedang yang melakukan kebaikan artinya sifat malaikat mendominasi sifat iblis. Orang itu akan melakukan perbuatan baik seperti sholat, bersedekah  dll. Yang termasuk sisi baik / sifat malaikat antara lain: ketaatan, sabar, tidak putus asa, adil, hemat, penyayang, dapat dipercaya dan sejenisnya. Sementara seseorang yang melakukan kejahatan artinya sifat iblis mendominasi sifat malaikat. Sisi buruk / sifat iblis mewakili juga perasaan negatif seperti: takut, putus asa, marah, ketidakpatuhan, boros, tidak adil dan sejenisnya. Perlu anda pahami hal ini pun terjadi juga pada para Nabi. Dalam Alquran diceritakan antara lain:
Suatu ketika para rasul menjadi putus asa dengan pertolongan Allah karena tekanan musuh / cobaan yang begitu dahsyat (QS 2:214) . Suatu ketika Nabi Yunus meninggalkan orang-orang yang harus didakwahi, lalai dari tugas karena ketidaksabaran (QS 21:87). Suatu ketika Nabi Daud tergoda hatinya dengan istri orang lain (QS 38:17-24). Nabi Musa menjadi kecewa dan marah akibat kaumnya yang durhaka (QS 7:150). Nabi Muhammad bermuka masam dan mengabaikan seorang buta yang minta diajarkan tentang Islam ketika Nabi Muhammad sedang mencoba membujuk para pembesar Quraisy (QS 80:1-11). Dalam Injil pun diceritakan hal yang serupa: Nabi Daud berzina dengan istri salah satu rakyatnya (Samuel Kedua  11:2-5). Ketika Yesus (Nabi Isa) lapar dan mencoba mencari buah Ara tapi ia menjumpai bahwa pohon Ara tersebut tidak berbuah, karena  memang bukan musimnya, namun ia menjadi marah dan mengutuk pohon itu hingga pohon itu mati (Markus 11:12-20 dan Matius 21:18-19).
Komentar : Saya paling jengkel kalau membaca buku yang isinya membahas apakah seorang Nabi itu punya dosa ataukah tidak (sinless)? Menurut saya hal semacam itu tidak perlu dibahas. Nabi haruslah diukur dari hasil kerjanya. Apakah misinya berhasil ataukah tidak?
Nah ilustrasi atas hal-hal diatas dalam Alquran diceritakan dalam suatu kisah perumpamaan seperti kepatuhan malaikat yang melambangkan sisi baik dari hati manusia  dan penolakan iblis ketika diperintah Tuhan untuk sujud ke Adam yang melambangkan sisi buruk dari hati manusia. Ya memang, selama ini kita selalu menganggap kisah dialog yang melibatkan “4 subyek”, Tuhan, Malaikat, Adam dan Iblis sebagai suatu kisah yang pernah benar-benar terjadi. Kisah-kisah diatas hanyalah salah satu ayat perumpamanan sebagaimana diterangkan Alquran:
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang berpengetahuan (QS 29:43).
Memang uraian diatas akan membawa kita kepada sebuah pertanyaan “kenapa tidak dari awal Tuhan memberitahukan semua itu lewat kitab suci dalam uraian yang langsung kepada sasaran bahwa setan itu sebenarnya ada didalam diri kita bukan di luar kita?” Saya punya dugaan begini, adalah lebih mudah mempersatukan umat jika umat mempunyai musuh bersama yang ada diluar tubuh kita yaitu iblis yang pembangkang itu.[4]
Oleh karenanya dalam Alquran yang diceritakan adalah kisah dialog yang melibatkan Tuhan, Adam, Iblis dan Malaikat. Ini adalah skenario yang sangat jenius, jika anda paham apa yang saya maksudkan.[5]
Kena6pa jenius? Karena buat sebagian orang adalah lebih mudah untuk “diberitahu”/lebih mudah mengerti bahwa “setan/iblis” ada di dalam luar tubuh. Sekiranya diberitahu bahwa “iblis” justru ada di dalam tubuh mereka, belum tentu mereka dapat paham, malah menjadi bingung. Jadi tidak apa-apa bila anda “lebih sreg” meyakini setan/iblis ada di luar tubuh anda. Setan/iblis sebagai sifat atau sebagai mahluk bukanlah masalah yang perlu diperdebatkan, karena kedua hal tsb sama-sama ciptaan Tuhan.
Dengan kalimat lain (yang lebih luas) mungkin sebagaimana yang dikemukakan Polybius berikut ini (dikutip dalam terjemahan buku Kontroversi Kenabian Dalam Islam: Antara Filsafat dan Ortodoksi  karya Fazlur Rahman):
Namun karena orang-orang awam adalah orang yang tidak punya pikiran dan penuh dengan dorongan-dorongan yang bertentangan dengan hukum, seperti rasa marah yang tak rasional dan kecenderungan-kecenderungan yang agresif, tidak  ada satu yang dapat mengendalikan mereka kecuali rasa takut terhadap yang gaib.[6]


[1] Rahman Fazlur, tema pokok al-qur’an: (Bandung: Perpustakaan Salman Institut Teknologi Bandung, 1983),hl. 178.
[2] Ibid: 26.
[3] Ibid:. 179.
[4] Irwan Ghailan, Salah Paham Tentang Setan, Jin, Roh, Hantu dan Sihir”, (Jakarta: Diva Press, 2004),hl.216.
[5] Ibid:218
[6] Ibid :232


Hubungi Kami