Akhlak Nabi Muhammad SAW


Akhlak Nabi Muhammad SAW



 
 Pengertian Akhlak 

            Akhlak dapat didefinisikan dari dua sudut, yakni dari sudut kebahasaan (etimologi), dan dari sudut istilah (terminologi). Dari sudut kebahasaan akhlak berarti perangai, tabiat (kelakuan atau watak dasar), kebiasaan atau kelaziman, dan peradaban. Dalam kamus Al Mu’iam Al-Falsafi, akhlak mengandung pengertian agama.
            Akar kata dari akhlak adalah dua kata, yakni khilqun (tabiat) dan khulqun (makhluk), sebagaimana dapat kita jumpai dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits:
            Pengertian akhlak secara sederhana berarti perilaku atau tingkah laku yang secara sadar dilakukan secara berulangkali. Artinya ada akhlak yang baik dan ada akhlak yang buruk. Ya TEPAT !. Pengertian akhlak secara sederhana diatas tidak membatasi apakah akhlak itu harus baik, intinya bila aktivitas ataupun perbuatan ataupun reaksi atas suatu perihal dilakukan berulang-ulang kali maka disebut akhlak.
            Kenapa pengertian akhlak diatas sangat sederhana? Terkesan tidak membatasi bukan!, itu karena kata akhlak sendiri adalah bentuk jamak yang berasal dari kata tunggal  Khuluk (Bahasa arab) yang berarti tabiat, tingkah laku dan bahkan ada yang mengartikannya sebagai agama (Berliana Katarkusumah) 
            Untuk membahas pengertian akhlak lebih jauh lagi, anda harus membaca beberapa pengertian akhlak oleh beberapa ahli khususnya ahli agama dan lainnya dibawah ini :

            Menurut Nurcholish Madjid, bahwa istilah akhlak atau khuluq merupakan satu akar kata dengan khalq atau penciptaan, khaliq (pencipta) dan makhluq (ciptaan), yang semuanya mengacu pada pandangan dasar Islam mengenai penciptaan manusia, bahwasanya manusia diciptakan dalam kebaikan, kesucian dan kemulian sebagai "sebaik baiknya ciptaan".
Serupa dengan pengertian akhlak diatas, menurut Ahmadi (2004) bahwa akhlak berasal dari rangkaian huruf kha-la-qa yang berarti menciptakan. Kata khalaqa mengingatkan tentang kata Al Khaliq atau pencipta yaitu Allah SWT dan kata Makhluk yaitu seluruh yang diciptakan oleh  Allah SWT. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian akhlak adalah suatu perilaku yang menghubungkan antara Allah SWT dan makhluk Nya.

            Menurut Imam Al-Ghazali, akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang, dari akhlak yang terpuji akan muncul perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan dahulu.
           
            Selanjutnya, dapat diambil beberapa konklusi tentang pengertian akhlak diatas  seperti syarat- syarat yang harus dimiliki oleh individu ataupun manusia untuk dapat dikatakan berakhlak (baik ataupun buruk)  serta macam macam akhlak (pembagian akhlak ) dan contoh contoh akhlak itu sendiri. Karena Akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat pada diri seseorang, maka suatu perbuatan itu baru disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat sebagai berikut :


Syarat-syarat agar dapat disebut sebagai akhlak :
  1. Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Kalau suatu perbuatan itu hanya dilakukan sekali saja, maka tidak dapat disebut sebagai akhlak.
  2. Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dahulu, sehingga benar-benar adalah suatu kebiasaan. Namun jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau karena ada motif dari orang lain atau karena setelah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang, maka tidak dapat disebut sebagai akhlak.
Akhlak Nabi Muhammad Saw

            Secara bahasa uswah artinya teladan, hasanah adalah baik. Jadi, uswah hasanah adalah teladan yang baik. Sebagai panutan dan contoh, Nabi Muhammad saw. memiliki akhlak yang baik dan sekaligus menjadi teladan bagi umatnya.
            Arti dari Muhammad adalah yang terpuji, ini merupakan sebuah nama yang baik dan istimewa. Dari nama tersebut terlihat sikap dan perilakunya yang baik. Kesabaran, ketabahan, keberanian, keadilan, ketegasan, dan lemah lembutnya menggambarkan seorang yang memiliki kepribadian yang sempurna.
            NABI Muhammad saw memiliki akhlak yang mulia, bahkan istrinya, Siti Aisyah ra mengatakan apabila ingin mengetahui akhlak rasulullah maka akhlaknya rasul adalah akhlaqul quran.
            Aisyah ra menceritakan saat Rasulullah pulang ke rumah dan Aisyah sebagai istri Beliau menyediakan minum kepada Rasul. “Ketika minum, astaghfirullah asin. Lalu bagaimana cara Rasul mengatasi dan memberitahukan kesalahannya, caranya sopan sekali. Rasulullah memanggil Ya Humaira, kamu haus tidak? Ayo temani saya minum. Siti Aisyah karena sayang dan cinta kepada rasul maka dimana rasul minum maka disitu ia meminumnya. Lalu Aisyah berkata, Ya rasul maafkan. Maka selesai masalahnya, dan mengingat cara rasul yang lembut saat memberitahu maka tidak berani untuk salah lagi,” tutur Syeikh Ali Jaber”.
            Walaupun sedang bergurau dan berjenaka, baginda tetap bercakap benar, tidak berdusta. Sebelum menjadi Rasul, baginda telah digelar AL-AMIN yang artinya orang yang dipercayai.

            Firman Allah swt.: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab (33): 21)
            Wujud dari uswah hasanah selain terdapat di dalam Al-Qur’an, juga melalui sunahnya. Sunah atau hadis adalah keseluruhan dari kehidupan Nabi Muhammad saw., baik perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun himmah atau cita-citanya yang belum terwujud.
            Setiap perkataan Nabi Muhammad saw. baik masalah hubungan dengan Allah maupun masalah sosial kemasyarakatan menjadi uswah hasanah. Baik dari cara berbicara maupun isi pembicaraannya adalah contoh yang harus ditiru oleh umatnya. Ketika Nabi Muhammad saw. berbicara selalu jelas dan tegas, sehingga orang yang diajak bicara bisa memahaminya. Demikian juga materi yang dibicarakan tidak menyimpang dari syariat dan ajaran Allah swt..
            Selain perkataan, perbuatan Rasulullah saw. pun menjadi contoh. Dari mulai tidur, berjalan, duduk, makan, minum, berpakaian, dan semua tingkah lakunya menjadi teladan bagi umatnya. Oleh karena itu, Allah selalu menjaga dan memelihara tingkah laku Nabi Muhammad saw.. Ia tidak pernah berbuat salah kepada siapa pun. Ketika beliau bermuka masam kepada salah seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum, Allah swt. langsung menegurnya.
            Dengan demiikian jelas bahwa akhlak Nabi Muhammad saw itu sangat terpuji dan mulia. Akhlak beliau ada di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Beliau adalah sosok panutan dan contoh yang patut diteladani dan ditiru oleh kita semua selaku umat Islam yang mengikuti ajaran syariatnya.

Cinta kepada Allah

            Sesungguhnya rasa cinta yang paling agung adalah cinta kepada Allah Ta’ala yang telah menciptakan rasa cinta dan Sang Pemilik cinta. Kesempurnaan cinta kepada Allah tergambar pada tiga hal:
  1. Mencintai Allah.
  2. Mencintai apa-apa yang dicintai Allah.
  3. Membenci apa-apa yang dibenci Allah.
            Jika kita mencintai apa-apa yang tidak dicintai Allah, maka rasa cinta kita kepada Allah dianggap kurang. Yang banyak terjadi adalah apa-apa yang terkadang mencampuri hati, berupa syahwat-syahwat sederhana yang dapat mengganggu pengaplikasian rasa cinta kepada Allah, melaksanakan peribadatan kepada-Nya, dan juga keikhlasan dalam melakukan sesuatu untuk-Nya.
            Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan konsekuensi keimanan yang paling besar. Setiap aktivitas yang ada merupakan ekspresi dari rasa cinta, yang baik maupun yang buruk.
            Setiap amalan shalih yang didasari atas rasa keimanan tidak terjadi kecuali karena adanya kecintaan yang terpuji. Dasar dalam kecintaan yang terpuji adalah kecintaan kepada Allah dan kecintan kepada Rasul-Nya. Kecintaan kepada agama dan syariat. Kecintaan kepada para kekasih Allah dan hamba-hamba-Nya yang shalih.
            Tiga unsur ini juga terdapat dalam surat Al Fatihah, surat yang selalu kita baca dalam setiap rakaat shalat kita.
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin mengisyaratkan makna cinta, karena al hamdu artinya memuji Allah dengan sifat-sifat sempur-na disertai rasa cinta. Pujian tanpa disertai rasa cinta tidak disebut al hamdu, akan tetapi al madhu. Ar rahmaanir rahiim mengisyaratkan makna raja`, karena rahmat Allah yang dikandung dalam dua nama Allah al rahman dan al rahim adalah sesuatu yang kita harapkan dari ibadah-ibadah yang kita kerjakan.
Maaliki yaumid diin mengisyaratkan makna khauf. Hari pembalasan adalah hari yang kita takutkan. Kedahsyatannya membuat setiap mukmin takut untuk menghadap dengan amal ibadah yang sedikit. Untuk itulah kita pun beribadah kepada Allah. Agar kita tidak mengalami kesulitan saat hari pembalasan itu datang hingga akhirnya kita dimasukkan kepada siksa Allah yang sangat berat.
            Cinta yang diliputi unsur ketundukan, merendahkan diri dan ketaaan secara mutlak tidak boleh terbagi. Ia adalah cinta khusus untuk Allah. Harus kita murnikan. Tidak boleh kita tujukan cinta itu kepada selain Allah. Jika cinta itu terbagi, berarti kita membagi ketundukan dan ibadah kita kepada Allah. Artinya kita telah berbuat dosa paling besar, yaitu syirik. Perhatikan firman Allah berikut,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2]: 165)
            Nabi muhammad saja yang sudah dijamin masuk syurga oleh Allah swt, beliau masih melaksanakan sholat bahkan kakinya sampai bengkak gara-gara beliau sering sholat malam, dhuha dan shalat yang lainnya ittu semua karena bentuk kecintaan nabi kepada Allah swt.
            Adapun cinta yang tidak mengandung unsur ketundukan dan perendahan diri,  tak berdosa jika ia ada dalam hati kita. Cinta keluarga, anak-anak, orang tua, sahabat, bahkan cinta kepada lawan jenis, harta dan dunia adalah tabiat dan fitrah manusia. Semua itu adalah cinta yang halal. Namun dengan catatan, semua cinta itu tidak boleh sampai melampaui cinta kita kepada Allah. Cinta itu tidak boleh sampai membuat kita meninggalkan kewajiban kita. Cinta itu tidak boleh sampai membuat kita bermaksiat kepada-Nya.
            Pokok cinta ada dalam hati. Namun cinta juga dapat diungkapkan oleh lisan. Cinta pun harus dibuktikan dalam perbuatan. Berikut adalah tanda-tanda orang yang mencintai Allah. Siapa saja yang memilikinya, berarti ia benar-benar mencintai Allah. Jika tidak, maka bisa kita katakan cintanya adalah cinta palsu atau hanya sekedar pengakuan.
1. Senantiasa mendahulukan perkara yang Allah cintai atas selainnya
Orang yang mencintai Allah nampak dari prilaku dan tindakannya yang senantiasa mengedepankan apa pun yang dicintai oleh Allah dari kepentingan siapa pun dan urusan apa pun, dari keinginannya, hawa nafsunya, akal pikirannya, orang yang dicintainya dan lain sebagainya
2. Mentauladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ciri orang yang mencintai Allah selanjutnya adalah mentauladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amati firman Allah berikut;
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31)
3. Mencintai orang-orang yang mencintai Allah
Tidak akan sempurna cinta kita kepada Allah hingga kita juga mencintai orang-orang yang mencintai Allah dikalangan orang-orang yang beriman. Ciri orang yang mencintai Allah adalah membangun persaudaraan yang kokoh diatas cinta kepada Allah, saling menyayangi, mengayomi dan membantu antara orang-orang beriman yang mencintai Allah. Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maa`idah [5]: 54)
5. Berjihad di jalan Allah
 Jihad adalah puncak tertinggi dari agama. Mengerahkan kemampuan dalam berperang melawan musuh Islam dengan tujuan meninggikan kalimat Allah ini adalah ciri cinta kepada Allah yang sangat besar. Sehingga Allah menjanjikan bagi orang-orang yang wafat dalam jihad surga yang akan mereka masuki tanpa hisab.
6. Tidak takut celaan dalam berpegang teguh terhadap agama
Selanjutnya, sebagaimana yang Allah nyatakan dalam surat Al Maa`idah diatas, ciri orang yang mencintai Allah adalah tidak takut dengan celaan, cemoohan, cibiran dan hinaan orang-orang yang tidak suka kepadanya karena ia berpegang teguh terhadap agama dan ajaran Allah. Kekuatan cinta telah membuatnya kebal dengan semua itu. Seperti teladannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang juga mendapat kata-kata dan hinaan buruk dari orang-orang musyrik dahulu. Beliau disebut penyihir, orang gila dan pemecah belah. Namun semua hinaan itu tidak membuatnya menyurutkan langkah walaupun sedikit pun dalam berdakwah kepada Allah.

Cinta Kepada Sesama

     Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintaisaudaranyamakaseakan-akandiamencintaidirinyasendiri.
            Menjauhkan perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman. Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

            Seorang muslim wajib merasa senang jika saudaranya memiliki agama yang baik. Dia senang jika saudaranya memiliki aqidah yang benar, tutur kata yang bagus dan perbuatan yang baik. Sebaliknya dia merasa benci jika keadaan saudaranya tersebut justru sebaliknya.

            Seorang muslim disunahkan untuk senang jika saudaranya mendapatkan kebaikan-kebaikan duniawi. Dia merasa senang jika saudaranya berharta, sejahtera, sehat, berkedudukan dan lain-lain dari kenikmatan duniawi, dan dia tidak senang jika saudaranya miskin, sengsara, dan menderita.

            Jika dalam urusan dunia, mendahulukan kepentingan saudaranya termaksud perbuatan yang terpuji dan disunahkan, namun jika dalam urusan akhirat, mendahulukan saudaranya termasuk perbuatan yang makruh.

            Para ulama berkata bahwa “tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu. Maksud kalimat “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi :
“Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”.

            Abu ‘Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat”. Semoga Allah memaafkan kami dan saudara kami semua.

            Abu Zinad berkata : “Secara tersurat Hadits ini menyatakan hak persaman, tetapi sebenarnya manusia itu punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan dirinya. Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri, maka ia merasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukannya demikian. Bukankah sesungguhnya manusia itu senang haknya dipenuhi dan tidak dizhalimi? Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang berlaku zhalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia segera menginsafi perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.
Dibawah ini ada beberapa sifat nabi yang patut kita contoh : 

Malu
            Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci. Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.
            Al-Junaid rahimahullâh berkata, “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.


Dalam HR Imam Malik dalam al-Muwathatha', 2:212, al-Halabi, Kairo,1371 H.
            Kesimpulan definisi di atas ialah bahwa malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain.
Abu Sa’id al-Khudri rahimahullah berkata,


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا. 

“Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.” (HR.al-Bukhâri)

            Imam al-Qurthubi rahimahullâh berkata, “Malu yang dibenarkan adalah malu yang dijadikan Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari keimanan dan perintah-Nya, bukan yang berasal dari gharîzah (tabiat). Akan tetapi, tabiat akan membantu terciptanya sifat malu yang usahakan (muktasab), sehingga menjadi tabiat itu sendiri. Nabi Muhammad saw memiliki dua jenis malu ini, akan tetapi sifat tabiat beliau lebih malu daripada gadis yang dipingit, sedang yang muktasab (yang diperoleh) berada pada puncak tertinggi.(Fathul Bâri (X/522).


Jujur
            Pengertian Jujur Apa pengertian jujur ? Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:
Kesesuaian antara ucapan dan perbuatan
·         Kesesuaian antara informasi dan kenyataan
·          Ketegasan dan kemantapan hati
·         Sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan. Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran, menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran merupakan kata benda.
            Kejujuran merupakan pondasi utama atas tegaknya nilai-nilai kebenaran karena jujur itu identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman dala al-Qur'an yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. al-Ahzāb/33:70)
            Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya (jujur) karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. ash-saf ayat : 2-3). 

Adil
            Adil menurut bahasa adalah tidak berat sebelah, tidak memihak atau manyamakan yang satu dengan yang lain.
Adil menurut istilah adalah seimbang atau tidak memihak dan memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan, dan meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya, dan mengucapkan kalimat yang benar tanpa ada yang ditakuti kecuali terhadap Allah swt saja.
Pengertian adil menurut para Ulama adalah sebagai berikut:
Ø Adil dalam arti “sama”
Dalam arti memperlakukan sama terhadap orang-orang, tidak membedakan hak-haknya.
Ø  Adil dalam arti “seimbang”
Keseimbangan sangat diperlukan dalam suatu kelompok yang didalamnya terdapat beragam bagian yang bekerja menuju satu tujuan tertentu. Dengan terhimpunnya bagian-bagian itu, kelompok tersebut dapat berjalan atau bertahan sesuai tujuan kehadirannya.
Ø  Adil dalam arti “Perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”
Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau “memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat”. Lawannya adalah kezaliman dalam arti melanggar hak-hak pihak lain. Pengertian ini melahirkan keadilan sosial.

Amanah
            Pengertian Amânah yang artinya jujur atau dapat dipercaya. Secara bahasa, amânah (amanah) dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti titipan (al-wadî‘ah).

            Amanah adalah lawan dari khianat. Amnah terjadi di atas ketaatan, ibadah, al-wadî’ah (titipan), dan ats-tsiqah (kepercayaan). Dengan demikian, sikap amanah dapat berlangsung dalam lapangan yang sangat luas. Oleh karena itu, sikap amanah merupakan sesuatu yang dipercayakan untuk dijaga, dilindungi, dan dilaksanakan.

Al-Quran menyatakan kata amanah dalam enam ayat. Allah Swt. berfirman:

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬

Sesungguhnya Kami telah menyampaikan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS al-Ahzâb [33]: 72).

            Ada berbagai pendapat mengenai makna amanah dalam ayat ini. Al-Qurthubi menyatakan, amanah bersifat umum mencakup seluruh tugas-tugas keagamaan. Ini adalah pendapat jumhur.
Ibn ‘Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda :

Yang artinya:
Allah berfirman kepada Adam, “Wahai Adam, Aku telah mengemukakan amanat kepada langit dan bumi, tetapi mereka tidak sanggup mengembannya. Apakah engkau sanggup mengembannya dengan apa yang ada di dalamnya?”
Adam bertanya, “Apa yang ada di dalamnya, wahai Rabb-ku?”
Allah menjawab, “Jika engkau mengembannya maka engkau diberi pahala dan jika engkau mengabaikannya maka engkau akan diazab.”Adam lalu mengembannya dengan apa yang ada di dalamnya. Adam tidak tinggal di Surga kecuali seukuran antara shalat yang pertama sampai shalat Ashar hingga setan mengeluarkannya dari surga. (HR at-Tirmidzi).

            Berdasarkan hadis ini, Ibn ’Abbas berpendapat, bahwa amanah dalam ayat ini maknanya adalah kewajiban-kewajiban dimana seorang hamba diberi diamanahi Allah untuk melaksanakannya.

            Asy-Syaukani menukil pendapat al-Wahidi, bahwa amanah di sini menurut pendapat seluruh ahli tafsir adalah ketaatan dan kewajiban-kewajiban yang penunaiannya dikaitkan dengan pahala dan pengabaiannya dikaitkan dengan siksa. Ibn Mas‘ud berkata, bahwa amanah di sini adalah seluruh kewajiban dan yang paling berat adalah amanah harta. Sedangkan Ubay bin Ka‘ab berpendapat bahwa di antara amanah adalah dipercayakannya kepada seorang wanita atas kehormatannya.

            Seluruh pendapat tersebut bermuara pada kesimpulan bahwa amanah dalam ayat tersebut adalah seluruh apa yang dipercayakan Allah kepada manusia mencakup seluruh perintah dan larangan-Nya, juga seluruh karunia yang diberikan kepada manusia. Sebagian ulama memerinci apa-apa saja yang termasuk amanah yang penting.





Hubungi Kami