Akal dan Wahyu


   

   

    1.   Pengertian Akal
Kata akal berasal dari kata dalam bahasa Arab, al-‘aql. Kata al-‘aql adalah mashdar dari kata ‘aqola–ya’qilu – ‘aqlan yang maknanya adalah “fahima wa tadabbaro“ yang artinya “paham (tahu, mengerti) dan memikirkan (menimbang)“. Maka al-‘aql, sebagai mashdarnya, maknanya adalah “ kemampuan memahami dan memikirkan sesuatu “. Sesuatu itu bisa ungkapan, penjelasan, fenomena, dan lain-lain,  semua yang ditangkap oleh panca indra.

Akal adalah peralatan manusia yang memiliki fungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuanya sangat luas. Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalah: sutu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahluk lain.

Ibn Rusyd, sebagaimana dikutip oleh Abdul Salim Mukrim, membagi akal menjadi tiga macam, Pertama, akal demonstratif (burhani) yang mampu memahami dalil-dalil yang meyakinkan dan tepat, menghasilkan hal-hal yang jelas dan penting, dan melahirkan filsafat. Akal ini hanya diberikan kepada sedikit orang saja. Kedua, akal logika (mathiqi) yang sekedar memahami fakta-fakta argumentatif. Ketiga, akal retorik (khithabi) yang hanya mampu mengkap hal-hal yang bersifat nasihat dan retorik, tidak dipersiapkan untuk memahami aturan berfikir sistematika.
orang yang menjadikan akal sebagai petunjuk tidak akan tersesat, dan orang yang melindungi diri dengan akal tidak akan tertaklukkan”(Al-Ghazali).



2. Pengertian Wahyu
            Secara etimologi “wahyu” berarti isyarat, bisikan buruk, ilham, perintah. Sedangkan menurut termonologi berarti nama bagi sesuatu yang disampaikan secara cepat dari Allah kepada Nabi-Nabi-Nya. Kata wahyu berasal dari kata arab الوحي, dan al-wahy adalah kata asli Arab dan bukan pinjaman dari bahasa asing, yang berarti suara, api, dan kecepatan. Dan ketika Al-Wahyu berbentuk masdar memiliki dua arti yaitu tersembunyi dan cepat. oleh sebab itu wahyu sering disebut sebuah pemberitahuan tersembunyi dan cepat kepada seseorang yang terpilih tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Sedangkan ketika berbentuk maf’ul wahyu Allah terhada Nabi-Nabi-Nya ini sering disebut Kalam Allah yang diberikan kepada Nabi.
           
Menurut Muhammad Abduh dalam Risalatut Tauhid berpendapat bahwa wahyu adalah pengetahuan yang di dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai keyakinan bahwa semua itu datang dari Allah SWT, baik melalui pelantara maupun tanpa pelantara. Baik menjelma seperti suara yang masuk dalam telinga ataupun lainya.

3. Akal dan Wahyu Perspektif Sekte-Sekte Ilmu Kalam
a)      Perspektif Mu’tazilah
Mu’tazilah merupakan aliran teologi islam yang bersifat rasional, dan dikenal juga sebagai “Kaum Rasionalis Islam.” Mereka banyak menggunakan akal dalam penjelasan konsep teologi mereka. Mereka banyak terpengaruh oleh filsafat-filsafat Yunani, sehingga dalam pandangan teologi pun mereka tetap menyesuaikan antara ajaran agama dengan filsafat, Ini mengindikasikan bahwa akal merupakan media informasi bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan.

b)            Perspektif Salafiyah,
fungsi wahyu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi akal. Yaitu keterkaitan untuk mengetahui aqidah, hukum-hukum dalam Islam dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu, baik aqidah itu sendiri maupun dalil-dalil pembuktiannya, tidak lain bersumber dari wahyu Allah SWT yakni Al-Qur’an dan juga Hadits-hadiits Nabi SAW sebagai penjelasannya. Apa yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Sunnah Nabi harus diterima dan tidak boleh ditolak.
           
Akal pikiran tidak mempunyai kekuatan untuk mentakwilkan Al-Qur’an atau mentafsirkannya ataupun menguraikannya, kecuali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) yang dikuatkan oleh hadits-hadits. Kekuatan akal sesudah itu tidak hanya membenarkan nash, serta mendekatnya kepada alam pikiran. Jadi fungsi akal pikiran yaitu hanya menjadi saksi pembenaran dan penjelas dalil-dalil Al-Qur’an , bukan menjadi hakim yang mengadili dan menolaknya. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa manakala wahyu belum/tidak datang, maka perbuatan buruk yang diketahui oleh akal itu tidak memestikan pelakunya diazab pada hari kiamat.

c)      Perspektif Asy’ariah
Adapun Asy’ariyah pada sisi lain menyatakan akal tidak akan pernah dapat mengetahui segala macam bentuk kewajiban serta bentuk kebaikan dan keburukan sebelum wahyu berada, sebab semua kewajiban hanya dapat diketahui dengan keberadaan wahyu. Akal hanya dapat mengetahui keberadaan Tuhan, tetapi wahyu yang mewajibkan manusia mengetahui Tuhan dan berterima kasih kepada-Nya.

Ibn Abi Hasym, salah satu tokoh Asy’ariyah, mengatakan bahwa akal hanya mengetahui perbuatan yang membawa kepada kemudharatan, akan tetapi tidak akan pernah tahu perbuatan yang masuk pada kategori perbuatan baik dan buruk. Dengan demikian, hanya wahyu yang akan menentukan baik dan buruk suatu perbuatan. Selain memberikan penjelasan terperinci, kedatangan wahyu dapat berfungsi sebagai pendukung terhadap akal.

d)        Perspektif Maturidiyah samarkand dan Bukhara
Menurut Maturidiyah, fungsi wahyu dan akal adalah sejajar atau seimbang. Al-Maturidi mangakui adanya kebaikan dan keburukan yang terhadap pada sesuatu perbuatan itu sendiri, dan akal bisa mengetahui kebaikan dan keburukan sebagai suatu perbuatan. Seolah-olah perbuatan itu terbagi atas tiga kategori: yaitu, sebagian yang dapat diketahui kebaikannya dengan akal semata-mata, sebagian tidak dapat diketahui keburukannya dengan kal semata-mata, dan sebagian lagi yang tidak jelas kebaikan dan keburukannya bagi akal tetapi hanya bisa diketahui dengan Syara’ (Wahyu dan Hadits).

Al-Maturidi mengetahui pendapat Abu Hanifah, yang mengatakan bahwa meskipun akal sanggup mengetahui, namun kewajiban itu berasal dari Syara’, karena akal semata-mata tidak dapat bertindak sendiri dalam kewajiban-kewajiban agama, sebab yang mempunyai taklif (mengeluarkan perintah-perintah agama) hanya Tuhan sendiri.



Hubungi Kami